Trossard Pergi, Arsenal Punya 'Pahlawan Momen Krusial' Baru: Mikel Merino
Baca dalam 60 detik
- Arsenal resmi melepas Leandro Trossard ke Besiktas dengan nilai transfer £17 juta setelah sang pemain menjadi pahlawan di musim peraih gelar Premier League.
- Untuk menggantikan Trossard, Arsenal mendatangkan Christos Tzolis dari Club Brugge seharga £35 juta, namun Mikel Merino dinilai memiliki naluri 'clutch' serupa.
- Merino, yang awalnya direkrut sebagai gelandang, mencatatkan 10 gol dan 6 assist dalam 23 penampilan sebagai striker darurat, dengan 91% golnya mengubah keadaan pertandingan.

Arsenal harus merelakan Leandro Trossard hengkang ke Besiktas dengan mahar £17 juta setelah pemain asal Belgia itu menjadi salah satu figur kunci di balik gelar Premier League musim lalu. Namun, di tengah pencarian pengganti, Mikel Arteta mungkin sudah memiliki senjata rahasia yang tak terduga: Mikel Merino.
Trossard, yang dijuluki 'Mr Clutch' oleh suporter, meninggalkan lubang besar di lini serang. Dalam pesan perpisahannya, ia menyebutkan betapa berartinya momen-momen krusial yang ia ciptakan selama berseragam Arsenal. Kini, beban itu harus dipikul pemain lain. Arsenal telah bergerak cepat dengan mendatangkan Christos Tzolis dari Club Brugge seharga £35 juta. Pemain asal Yunani itu mencatatkan 22 gol dan 29 assist musim lalu, menjanjikan kreativitas dan ketajaman. Namun, pertanyaan besarnya: akankah ia setangguh Trossard dalam tekanan?
Menurut analis sepak bola, jawabannya mungkin sudah ada di dalam skuad. Mikel Merino, yang direkrut dari Real Sociedad sebagai gelandang, justru menjelma menjadi pemain paling menentukan di momen genting. Ketika Kai Havertz dan Gabriel Jesus cedera pada musim 2024/25, Arteta memainkan Merino sebagai striker darurat. Hasilnya? Sepuluh gol dan enam assist dalam 23 penampilan sebagai penyerang tengah—catatan yang luar biasa untuk pemain yang bukan striker murni.
Yang membuat Merino istimewa adalah kemampuannya tampil di panggung besar. Ia tidak hanya bersinar di level klub, tetapi juga di tim nasional Spanyol saat menjuarai Piala Dunia. Gol-gol penentu di fase gugur turnamen tersebut membuktikan bahwa ia memiliki 'gen clutch' yang sama seperti Trossard. Seperti diungkapkan jurnalis The Athletic, Art De Roche, Merino adalah tipe pemain yang selalu bisa diandalkan untuk muncul di momen-momen penting.
Meski bukan pemain sayap seperti Trossard, Merino menawarkan fleksibilitas taktis yang berharga. Ia bisa bermain sebagai gelandang serang, gelandang bertahan, atau bahkan penyerang tengah. Kehadirannya memberi Arteta opsi untuk tidak terlalu bergantung pada satu profil pemain. Sementara itu, Gabriel Martinelli yang juga bisa bermain di posisi sayap kiri, tengah mengalami penurunan performa—hanya mencetak satu gol Premier League musim lalu.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Merino bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya kesabaran dan adaptasi. Di tengah hiruk-pikuk transfer mahal, seringkali solusi terbaik justru sudah ada di dalam tim. Arsenal mungkin tidak perlu lagi memburu pemain bintang baru jika Merino terus menunjukkan konsistensi. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan performa tersebut dalam jangka panjang? Atau akankah Tzolis yang justru menjadi pewaris tahta Trossard? Musim depan akan menjawabnya.



