Harga Minyak Terkoreksi, Pasar Menanti Sinyal Gencatan Senjata AS-Iran
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI melemah tipis pada perdagangan Selasa pagi setelah reli mingguan terbesar sejak April, di tengah harapan gencatan senjata 10 hari antara AS dan Iran.
- Ancaman blokade laut Houthi terhadap Arab Saudi menambah risiko rantai pasok global, namun fokus pasar beralih ke jalur diplomasi.
- Penurunan lalu lintas kapal di Selat Hormuz dan data stok minyak AS yang akan dirilis menjadi katalis volatilitas jangka pendek.

Harga minyak mentah dunia bergerak turun pada perdagangan Selasa pagi (21/7/2026), menghentikan reli tajam pekan lalu, setelah muncul sinyal positif dari upaya mediasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Meski risiko gangguan pasokan di Timur Tengah masih tinggi, pelaku pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan deeskalasi konflik yang telah mendorong Brent menembus level psikologis US$90 per barel.
Berdasarkan data Refinitiv, harga minyak Brent tercatat di US$88,62 per barel pada pukul 09.25 WIB, turun 0,67% dari penutupan sebelumnya. Sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$82,98 per barel, melemah 0,30%. Pelemahan ini terjadi sehari setelah Brent sempat menyentuh level tertinggi dalam sebulan terakhir, didorong eskalasi serangan militer antara kedua negara.
Fokus pasar kini beralih ke perkembangan diplomasi. Seorang pejabat senior Iran mengungkapkan kepada Reuters bahwa Teheran telah menerima proposal gencatan senjata selama 10 hari dari mediator. Langkah ini dimaksudkan untuk menyelamatkan kesepakatan sementara yang ditandatangani pada 17 Juni, yang diharapkan menjadi landasan menuju perundingan damai permanen. Namun, situasi di lapangan masih memanas: Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi gelombang serangan baru ke Iran, sementara Garda Revolusi Iran membalas dengan menyerang aset militer AS di kawasan.
Ancaman baru datang dari kelompok Houthi Yaman yang menyatakan akan memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah ini berpotensi memperluas gangguan rantai pasok energi global, mengingat Arab Saudi adalah eksportir minyak terbesar dunia. Analis KCM Trade, Tim Waterer, menilai ancaman tersebut meningkatkan risiko terganggunya ekspor minyak dari produsen utama, namun pasar masih menunggu bukti nyata deeskalasi dari jalur diplomasi.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak dunia memiliki dampak langsung terhadap anggaran subsidi energi dan neraca perdagangan. Sebagai importir minyak bersih, setiap kenaikan harga minyak akan membebani APBN melalui peningkatan subsidi BBM dan listrik. Sebaliknya, penurunan harga seperti saat ini dapat memberikan ruang fiskal bagi pemerintah, meskipun volatilitas yang tinggi tetap menjadi risiko bagi stabilitas harga domestik.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menantikan data persediaan minyak Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini. Survei pendahuluan Reuters memperkirakan stok minyak mentah AS turun pada pekan lalu, seiring berkurangnya persediaan bensin, sementara stok distilat diperkirakan meningkat. Data ini akan menjadi indikator tambahan bagi arah harga jangka pendek.
Dengan masih adanya ketidakseimbangan antara risiko pasokan dan harapan diplomasi, pergerakan harga minyak diperkirakan akan tetap volatil dalam beberapa hari ke depan. Pertanyaan yang mengemuka: apakah gencatan senjata 10 hari mampu menjadi titik balik menuju stabilitas kawasan, atau hanya jeda singkat sebelum eskalasi berikutnya?



