Viral di China: Memeluk Beligo Raksasa untuk Redakan Panas, Ini Kata Sains
Baca dalam 60 detik
- Warga China memeluk beligo (winter melon) saat tidur untuk mendinginkan tubuh di tengah gelombang panas ekstrem dengan suhu hingga 50°C.
- Kandungan air beligo yang mencapai 95% membuatnya mampu menyerap panas tubuh secara konduktif, menciptakan sensasi dingin 3–5°C di bawah suhu ruang.
- Praktik ini bukan solusi medis utama; pakar mengingatkan risikonya bagi kelompok rentan dan menekankan pentingnya langkah pendinginan konvensional.

Gelombang panas yang melanda China pada Juli 2026 memicu tren unik di media sosial: warga memeluk beligo raksasa—sayuran yang juga dikenal sebagai winter melon—saat tidur untuk mendinginkan tubuh. Video dan foto anak-anak, bayi, hingga hewan peliharaan berpelukan dengan sayuran seukuran tubuh mereka telah ditonton jutaan kali, menjadi fenomena viral di tengah suhu ekstrem yang mencapai 50 derajat Celsius di Xinjiang.
Fenomena ini bukan sekadar iseng. Otoritas Meteorologi China (CMA) mencatat suhu 35–39°C di berbagai wilayah, termasuk Shanghai dan Chongqing, mendorong warga mencari alternatif pendingin selain AC. Beligo, yang berasal dari Asia Selatan dan Tenggara, memiliki kandungan air lebih dari 95 persen—jauh melebihi apel (84%) atau wortel (88%). Sifat inilah yang membuatnya terasa dingin saat disentuh, karena air memiliki kapasitas panas jenis tinggi, artinya butuh banyak energi untuk menaikkan suhunya.
Zeng Wenying, dokter kepala di Rumah Sakit Xiyuan, China Academy of Chinese Medical Sciences, menjelaskan bahwa saat bersentuhan dengan kulit, beligo menyerap panas tubuh melalui konduksi. Semakin besar volume beligo, semakin banyak panas yang bisa diserap sebelum suhunya naik. Kulitnya yang tebal dan berlapis lilin alami juga memperlambat penguapan air, membuatnya tetap dingin lebih lama—bahkan bisa bertahan hingga setahun setelah panen.
Dalam pengobatan tradisional China, beligo dipercaya memiliki sifat mendinginkan yang membantu mengurangi bengkak dan meredakan “panas dalam”. Namun, klaim ini belum didukung uji klinis modern. Efek pendinginan yang dirasakan lebih mungkin berasal dari mekanisme fisika sederhana, bukan senyawa aktif pada kulitnya. Zeng juga memperingatkan bahwa metode ini tidak cocok untuk lansia, anak kecil, ibu hamil, atau mereka yang memiliki gangguan limpa dan lambung, karena risiko nyeri perut atau diare akibat paparan dingin berlebih.
Bagi pembaca di Indonesia, tren ini menarik untuk dicermati mengingat Indonesia juga kerap dilanda cuaca panas. Meski beligo mudah ditemukan di pasar tradisional, para ahli mengingatkan bahwa memeluk sayuran bukanlah solusi utama mengatasi heatstroke. Langkah seperti menjaga hidrasi, menggunakan pendingin ruangan, dan menghindari paparan matahari langsung tetap lebih efektif. Metode ini bisa menjadi tambahan yang murah dan ramah lingkungan, tetapi tidak menggantikan tindakan pencegahan medis yang terbukti.
Ke depan, apakah tren ini akan bertahan atau hanya sekadar viral sesaat? Yang jelas, kreativitas warga China dalam menghadapi cuaca ekstrem membuka diskusi tentang perpaduan kearifan lokal dan sains modern. Namun, tanpa penelitian lebih lanjut, efektivitas dan keamanan metode ini masih perlu diuji secara ketat sebelum direkomendasikan secara luas.



