Wall Street Terkoreksi, Konflik AS-Iran Dongkrak Harga Minyak
Baca dalam 60 detik
- Bursa saham AS ditutup melemah pada Senin (20/7) setelah eskalasi konflik AS-Iran memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran pasokan global.
- Harga minyak Brent menembus 90 dolar AS per barel, sementara harga bensin di AS kembali di atas 4 dolar AS per galon, menekan sentimen investor.
- Ketidakpastian laporan keuangan raksasa teknologi seperti Alphabet dan Tesla turut membayangi pasar, dengan ekspektasi tinggi yang sulit dipenuhi.

Wall Street bergerak ke zona merah pada perdagangan Senin (20/7) setelah kenaikan awal sirna oleh eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong harga minyak melonjak. Pasar modal AS juga dibayangi kehati-hatian menjelang rilis laporan keuangan emiten teknologi besar pekan ini.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya tengah "terlibat dalam perang skala penuh" dengan AS, sementara sekutu Teheran di Yaman, kelompok Houthi, mengumumkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Saudi. Langkah itu mengancam kemampuan Riyadh untuk mengekspor minyak melalui jalur alternatif Selat Hormuz. Ketegangan meningkat setelah akhir pekan lalu AS mengumumkan tiga personel militernya tewas dan satu lainnya hilang dalam kontak senjata.
Harga minyak Brent berjangka ditutup naik 1,3 persen menjadi 89,22 dolar AS per barel, setelah sempat menembus 90 dolar AS. Di dalam negeri AS, harga bensin rata-rata kembali melampaui 4 dolar AS per galon, menurut data AAA motor club. "Situasi AS-Iran saat ini terdengar agak berbahaya," ujar Patrick O'Hare, analis di Briefing.com, kepada Reuters.
Di tengah kekhawatiran pasokan, pasar juga mencermati pernyataan yang lebih lunak dari kedua kubu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima pesan dari mediator tertentu. "Poin utamanya adalah aparat diplomatik telah aktif dalam beberapa hari terakhir dan ide-ide telah disampaikan kepada kami," katanya dalam konferensi pers di Teheran. Namun, ketidakpastian pasokan minyak Saudi tetap membebani harga.
Saudi Arabia selama ini masih mampu mengekspor jutaan barel minyak per hari melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah, meskipun jauh di bawah total sebelum perang. Pasar minyak telah lama khawatir bahwa Houthi akan kembali menyerang kapal di Laut Merah dan Teluk Aden, seperti yang mereka lakukan selama perang Gaza, yang berpotensi memutus lebih banyak pasokan minyak mentah dari pasar global. Houthi, yang telah berperang dengan Riyadh selama lebih dari satu dekade, belum merinci bagaimana mereka akan menegakkan blokade tersebut.
Sementara itu, saham sektor semikonduktor sempat menguat setelah pekan lalu tertekan, namun O'Hare menilai investor masih ragu apakah pendapatan perusahaan teknologi akan memenuhi ekspektasi yang terlalu tinggi akibat kecerdasan buatan. "Tidak banyak keyakinan saat ini. Pertanyaannya bukan apakah raksasa seperti Alphabet atau Tesla akan melampaui ekspektasi, tetapi apakah mereka akan melampauinya cukup besar," ujarnya. Pasar saham Asia sebelumnya juga ditutup melemah karena harga minyak yang tinggi dan kekhawatiran sektor AI yang dinilai sudah jenuh beli.
Di bursa London, indeks FTSE 100 terkoreksi 0,7 persen. Analis Patrick Munnelly dari Tickmill menyebut investor dihadapkan pada "kejutan minyak baru, meningkatnya kekhawatiran pengiriman di sekitar Selat Hormuz, dan ketidakpastian arah kebijakan perdana menteri baru Inggris." Pound sterling juga melemah terhadap dolar AS setelah Andy Burnham resmi menjabat perdana menteri dan menunjuk mantan menteri pertahanan John Healey sebagai menteri keuangan.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak global berpotensi menekan anggaran subsidi energi dan memperlebar defisit neraca perdagangan. Di sisi lain, harga komoditas yang lebih tinggi dapat menguntungkan eksportir batu bara dan kelapa sawit. Namun, jika konflik berkepanjangan, risiko inflasi impor dan pelemahan rupiah patut diwaspadai. Pertanyaan besarnya: akankah harga minyak bertahan di atas 90 dolar AS per barel dalam jangka panjang, atau hanya gejolak sesaat yang akan mereda setelah ada kesepakatan diplomatik?



