Minyak Tembus US$100, Bursa Asia Terkoreksi: Apa Dampaknya ke Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent kembali ke level US$100 per barel akibat serangan di Laut Merah, memicu aksi jual di bursa Asia.
- Indeks saham Jepang, Korea Selatan, dan Australia kompak turun, sementara investor khawatir eskalasi konflik Iran-AS mengganggu pasokan.
- Kenaikan harga minyak berpotensi membebani APBN Indonesia melalui subsidi energi dan menekan rupiah jika berlanjut.

Harga minyak mentah Brent menembus level psikologis US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua bulan, memicu aksi jual di bursa Asia pada perdagangan Jumat pagi. Lonjakan ini dipicu oleh serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah, yang menambah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Indeks Nikkei 225 Jepang terkoreksi 1,2%, sementara Topix melemah 1%. Di Korea Selatan, Kospi turun 1,8% dan Kosdaq yang berisi saham berkapitalisasi kecil anjlok 2,17%. Australia juga tak luput: S&P/ASX 200 turun 0,47%. Kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong diperdagangkan di 24.885, lebih rendah dari penutupan sebelumnya di 25.210,81.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah Brent melonjak sekitar 7% dalam sehari, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 6%. Serangan di Laut Merah memperkuat kekhawatiran bahwa rantai pasokan minyak global akan terganggu, terutama di tengah ketegangan yang sudah memanas antara Iran dan AS.
Adam Turnquist, kepala strategi teknis di LPL Financial, menilai pasar saat ini memasuki fase yang rentan. "Ketika sentimen dan posisi pasar sangat bearish, bahkan penurunan ekspektasi pasokan yang moderat pun dapat memicu respons harga yang luar biasa," ujarnya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga minyak belum tentu berkelanjutan, tetapi risiko kenaikan lebih lanjut tetap terbuka.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak membawa implikasi ganda. Di satu sisi, harga minyak yang tinggi akan memperlebar defisit neraca perdagangan karena Indonesia masih menjadi importir minyak neto. Di sisi lain, beban subsidi energi dalam APBN akan meningkat, mempersempit ruang fiskal pemerintah. Jika harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, tekanan terhadap rupiah dan inflasi domestik bisa semakin terasa.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada respons negara-negara konsumen, termasuk kemungkinan koordinasi OPEC+ untuk menambah pasokan. Pertanyaan besarnya: akankah kenaikan ini hanya bersifat sementara, atau justru menjadi awal tren bullish baru yang menguji ketahanan ekonomi Asia?



