Rupiah Terperosok ke Rp17.930 per Dolar AS, Terseret Harga Minyak dan Tarif Trump
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka melemah 0,22% ke Rp17.930/US$ pada Jumat (24/7/2026), melanjutkan tren negatif akibat tekanan dolar AS yang perkasa.
- Harga minyak yang kembali menembus US$100 per barel dan tarif baru AS sebesar 10% untuk Indonesia memicu kekhawatiran inflasi global.
- Pelemahan rupiah diperkirakan berlanjut jika ketegangan geopolitik dan kebijakan proteksionis AS tidak mereda dalam waktu dekat.

Nilai tukar rupiah kembali tertekan ke level psikologis Rp17.930 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (24/7/2026), melanjutkan tren pelemahan yang sudah berlangsung sejak awal pekan. Depresiasi sebesar 0,22% ini terjadi di tengah menguatnya indeks dolar AS (DXY) yang sempat menyentuh level tertinggi dalam tiga pekan terakhir.
Data Refinitiv menunjukkan rupiah dibuka lebih lemah dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.890/US$. Sementara DXY pada pukul 09.00 WIB tercatat sedikit terkoreksi 0,06% ke 101,392, setelah sehari sebelumnya melesat 0,32%. Meski koreksi tipis terjadi, indeks dolar masih bertahan di atas level 101, mengindikasikan sentimen risk-off masih mendominasi pasar keuangan global.
Tekanan terhadap rupiah datang dari dua arah sekaligus: lonjakan harga minyak mentah dunia dan kebijakan tarif baru pemerintah AS. Harga minyak pada Kamis (23/7) kembali menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei 2026, dipicu serangan kelompok Houthi Yaman terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Eskalasi konflik Timur Tengah kini mengancam dua jalur vital perdagangan minyak, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb, yang dapat mengganggu pasokan global.
Di sisi lain, pemerintahan Presiden Donald Trump resmi memberlakukan tarif baru sebesar 10% terhadap barang impor dari 60 negara, termasuk Indonesia. Tarif ini menggantikan kebijakan tarif global sementara 10% yang berakhir hari ini. Bagi Indonesia, tarif baru ini berpotensi menekan ekspor nonmigas ke AS, terutama tekstil, elektronik, dan produk pertanian. Meski pemerintah AS menyatakan tarif tidak akan melampaui batas kesepakatan dagang yang sudah ada, ketidakpastian tetap membayangi pelaku usaha.
Kombinasi kenaikan harga minyak dan tarif perdagangan memicu kekhawatiran inflasi global yang lebih persisten. Imbasnya, yield US Treasury tenor 10 tahun naik signifikan dalam sepekan terakhir, menarik aliran modal ke aset dolar AS dan semakin mempersempit ruang apresiasi rupiah. Analis memperkirakan Bank Indonesia akan tetap berada di pasar untuk menstabilkan rupiah melalui intervensi, namun tekanan eksternal yang kuat membuat pergerakan mata uang Garuda masih rentan.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati data inflasi AS pekan depan serta perkembangan konflik Timur Tengah. Jika harga minyak terus bertahan di atas US$100 dan ketegangan dagang tak mereda, rupiah berpotensi menguji level Rp18.000/US$ dalam waktu dekat. Pertanyaannya, sejauh mana kebijakan moneter domestik mampu menahan guncangan eksternal tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi?



