Lagi, Filipina Tuding China Lukai Awak Kapal di Laut China Selatan
Baca dalam 60 detik
- Militer Filipina menuduh penjaga pantai China memukul kepala pelaut Filipina dengan pentungan kayu di Beting Second Thomas.
- Insiden terbaru ini memperkeruh hubungan kedua negara yang sudah tegang akibat sengketa wilayah Laut China Selatan.
- Pertemuan ASEAN di Manila pekan ini diharapkan membahas mekanisme pencegahan konflik bersenjata di kawasan.

Ketegangan di Laut China Selatan kembali memanas setelah militer Filipina menuduh personel penjaga pantai China melukai seorang pelaut Filipina dalam insiden di Beting Second Thomas, Senin (21/7). Insiden yang terekam video itu memicu kecaman keras Manila dan mempertegas pola agresif Beijing di wilayah yang diklaimnya hampir seluruhnya.
Menurut pernyataan militer Filipina, delapan personel penjaga pantai China menggunakan perahu karet mendekati kapal perang BRP Sierra Madre yang kandas sejak 1999. Ketika dua perahu karet Filipina meminta mereka mundur secara damai, awak China bereaksi dengan memukul kepala seorang pelaut Filipina menggunakan pentungan kayu. Akibatnya, korban mengalami cedera dan perahu karet Filipina rusak. Tingkat cedera masih dievaluasi untuk menentukan perlu tidaknya evakuasi medis.
China membantah tudingan tersebut. Dalam pernyataan di media sosial, penjaga pantai China mengklaim dua perahu karet Filipina menabrak kapal patroli China secara berbahaya. โPersonel Filipina dengan sengaja menyerang petugas penegak hukum China menggunakan dayung dan tongkat panjang,โ bunyi pernyataan itu. Beijing menuduh Manila memutarbalikkan fakta dan menyebut klaim Filipina sebagai โpembalikan total antara benar dan salah.โ
BRP Sierra Madre, kapal perang tua yang sengaja dikandangkan Filipina di Beting Second Thomas pada 1999, menjadi simbol sengketa yang tak kunjung usai. China mengepung atol tersebut dengan kapal-kapalnya selama bertahun-tahun, menuntut Manila menarik kapal itu. Insiden terbaru ini menambah daftar panjang gesekan antara kedua negara, termasuk tabrakan kapal dan penyemprotan meriam air.
Bagi Indonesia, eskalasi di Laut China Selatan memiliki implikasi langsung. Sebagai negara yang juga memiliki klaim di kawasan tersebut, khususnya di sekitar Kepulauan Natuna, setiap insiden antara China dan Filipina berpotensi mempengaruhi stabilitas keamanan maritim dan kebebasan navigasi. Indonesia selama ini mengusulkan pendekatan diplomasi dan dialog, namun tindakan agresif China semakin mempersulit upaya tersebut.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi dijadwalkan hadir dalam pertemuan tahunan Menteri Luar Negeri ASEAN di Manila pekan ini. Sengketa Laut China Selatan menjadi agenda utama, termasuk negosiasi pakta non-agresi yang bertujuan mencegah konflik bersenjata besar yang bisa melibatkan Amerika Serikat. Washington telah berjanji membantu sekutunya, Filipina, dan menjaga kebebasan navigasi di jalur perdagangan sibuk itu.
Dengan rekaman video yang beredar dan klaim yang saling bertentangan, pertanyaan besarnya adalah: akankah ASEAN mampu mendorong China menahan diri, atau justru insiden ini akan memicu spiral eskalasi baru yang merugikan semua pihak?



