BNBR Akhirnya Buka Suara soal Proyek PSEL Danantara: Saham Sempat Terbang 23%
Baca dalam 60 detik
- PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mengonfirmasi anak usahanya, Bakrie Power, terpilih sebagai mitra pengelola proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) Tahap II bersama Danantara, namun statusnya masih bersyarat.
- Keterbukaan informasi baru disampaikan setelah saham BNBR melonjak 23,53% dalam sehari, memicu spekulasi pasar yang kini direspons manajemen.
- Proyek ini masih dalam tahap studi kelayakan, sehingga nilai investasi, skema bagi hasil, dan target operasi komersial belum dapat diungkapkan.

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) akhirnya angkat bicara terkait keterlibatan anak usahanya, PT Bakrie Power, dalam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Dalam surat tanggapan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 20 Juli 2026, manajemen membenarkan bahwa Bakrie Power melalui Consortium Mentari Citra Lestari telah ditetapkan sebagai mitra terpilih untuk pengembangan PSEL Tahap II. Namun, penunjukan itu belum final lantaran masih harus memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan Danantara.
Keterbukaan informasi ini menjadi angin segar bagi investor yang sebelumnya dibuat penasaran dengan lonjakan harga saham BNBR. Pada perdagangan sebelumnya, saham emiten Grup Bakrie itu melesat 23,53% ke level Rp105, dan dalam sebulan terakhir menguat 26,86%. Meski demikian, secara year-to-date, BNBR masih terkoreksi 3,25%. Pergerakan ini memicu spekulasi bahwa ada katalis positif yang belum diumumkan secara resmi.
Manajemen BNBR menjelaskan bahwa status mitra terpilih baru akan efektif setelah seluruh persyaratan dalam conditional letter of award dipenuhi. Jika tidak, posisi Bakrie Power bisa digantikan oleh mitra cadangan sesuai mekanisme Danantara. Inilah yang menjadi alasan perseroan belum lebih awal menyampaikan keterbukaan informasi ke publik. "PT Bakrie Power (Consortium Mentari Citra Lestari) sebagai mitra terpilih akan ditetapkan menjadi mitra usaha pengembangan dan pengelolaan PSEL setelah persyaratan dalam conditional letter of award dipenuhi sepenuhnya," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi.
Proyek PSEL Tahap II ini merupakan bagian dari upaya pemerintah mempercepat transisi energi dan mengurangi timbunan sampah. Bagi BNBR, bisnis waste-to-energy dinilai sebagai diversifikasi yang prospektif sejalan dengan tren global menuju ekonomi sirkular. Bakrie Power sendiri memiliki pengalaman dalam pembangunan pembangkit listrik untuk pasar business-to-business (B2B), sehingga proyek ini dianggap masih relevan dengan kompetensi inti perseroan.
Meski telah ditetapkan sebagai mitra terpilih, BNBR belum dapat mengungkapkan besaran investasi yang akan digelontorkan. Pasalnya, proyek masih memasuki tahap studi kelayakan (feasibility study) yang mengevaluasi aspek teknis, komersial, dan finansial. Demikian pula dengan skema pembagian hasil dengan Danantara, yang baru akan dibahas dalam negosiasi Sponsor Agreement setelah studi kelayakan rampung. Ketentuan tersebut mencakup struktur investasi, alokasi risiko, dan mekanisme pembagian keuntungan.
Bagi investor Indonesia, proyek ini menawarkan peluang sekaligus risiko. Di satu sisi, keterlibatan dengan Danantara—badan pengelola investasi pemerintah—memberikan legitimasi dan potensi dukungan pendanaan. Di sisi lain, ketidakpastian jadwal dan nilai proyek membuat prospek jangka pendek masih kabur. BNBR sendiri mengakui bahwa target operasi komersial (COD) dan estimasi kontribusi terhadap pendapatan belum dapat ditentukan hingga seluruh tahapan studi dan pembentukan joint venture selesai.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah seberapa cepat Bakrie Power dapat memenuhi persyaratan Danantara dan melangkah ke tahap final letter of award. Jika berhasil, proyek PSEL Tahap II bisa menjadi katalis signifikan bagi kinerja BNBR di masa depan. Namun, jika gagal, posisi mitra cadangan yang sudah disiapkan akan menggantikan—dan saham BNBR berpotensi kembali tertekan.



