IHSG Tembus 6.200, Asing Borong Saham Prajogo Pangestu Hingga Rp349 M
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatat net buy Rp93,5 miliar di seluruh pasar, namun konsentrasi aliran dana terbesar mengarah ke saham Grup Prajogo Pangestu.
- TPIA menjadi primadona dengan net foreign buy Rp349,3 miliar, mendorong harga sahamnya melesat 9% dalam sehari.
- IHSG ditutup menguat 0,91% ke 6.231,78 dengan nilai transaksi Rp17,16 triliun, menandakan optimisme pasar yang selektif.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level psikologis 6.200 pada perdagangan awal pekan ini, ditopang oleh aksi beli asing yang terkonsentrasi pada saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu. Aliran dana asing yang deras ke emiten petrokimia dan energi miliknya menjadi motor penggerak utama indeks di tengah transaksi yang mencapai Rp17,16 triliun.
Berdasarkan data bursa, investor asing membukukan net buy tipis sebesar Rp93,5 miliar di seluruh pasar pada Senin (20/7/2026). Namun, angka itu tidak mencerminkan konsentrasi dana yang sangat tinggi: saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menyerap beli bersih hingga Rp349,3 miliar, jauh melampaui total net buy keseluruhan. Artinya, aksi jual asing di saham lain menutupi sebagian besar aliran masuk ke TPIA.
Kinerja TPIA pun melesat 9% ke level 2.120, menjadikannya salah satu saham dengan kenaikan tertajam hari itu. Fenomena ini menunjukkan bahwa investor global masih menaruh kepercayaan pada prospek industri petrokimia nasional, terutama setelah pemerintah mengumumkan insentif fiskal untuk sektor hilirisasi.
Selain TPIA, saham Grup Prajogo lainnya juga kebanjiran dana asing. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DEWA) mencatat net foreign buy Rp51,9 miliar, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) Rp47 miliar, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp38,2 miliar. Total aliran ke empat emiten Grup Prajogo mencapai lebih dari Rp486 miliar, atau setara 5,2 kali lipat net buy pasar secara keseluruhan.
Di luar kelompok Prajogo, saham perbankan juga menjadi sasaran. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat net foreign buy Rp93,4 miliar, menempati posisi kedua setelah TPIA. Saham lain yang diminati asing antara lain ADRO (Rp35,6 miliar), INDF (Rp29,9 miliar), MEDC (Rp17,9 miliar), BNBR (Rp16,6 miliar), dan GGRM (Rp15,7 miliar).
Bagi investor ritel Indonesia, pola pergerakan ini memberikan sinyal penting. Konsentrasi dana asing yang sangat tinggi pada saham tertentu mengindikasikan strategi selektif: alih-alih memburu seluruh indeks, asing lebih memilih saham dengan fundamental kuat dan prospek jangka panjang, terutama yang terkait dengan hilirisasi sumber daya alam. Langkah ini juga mencerminkan optimisme terhadap kebijakan pemerintah yang mendorong industrialisasi domestik.
Meski IHSG menguat, volume transaksi yang mencapai 35,57 miliar saham menunjukkan partisipasi pasar yang tinggi. Namun, investor perlu mencermati risiko konsentrasi: jika sentimen terhadap Grup Prajogo berbalik, tekanan jual bisa cepat menyebar ke seluruh indeks. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah penguatan ini dapat bertahan hingga akhir pekan, terutama dengan adanya data inflasi AS yang akan dirilis dalam waktu dekat.



