Houthi Serang Tanker Saudi di Laut Merah, Harga Minyak Tembus 100 Dolar AS
Baca dalam 60 detik
- Kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah, memicu lonjakan harga minyak global di atas 100 dolar AS per barel.
- Serangan ini memperluas konflik yang sudah memblokade Selat Hormuz, mengancam rantai pasokan energi dunia dan memicu kekhawatiran akan krisis ekonomi global.
- AS mengancam akan menjatuhkan hukuman militer besar-besaran terhadap Iran jika serangan Houthi berlanjut, sementara upaya diplomatik dari PBB dan negara-negara regional terus digencarkan.

Serangan kelompok Houthi Yaman terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah pada Kamis (24/7) mendorong harga minyak mentah Brent menembus 100 dolar AS per barel, mempertebal kekhawatiran akan meluasnya perang di kawasan Timur Tengah yang sudah memicu blokade di Selat Hormuz.
Kelompok yang didukung Iran itu mengklaim telah menyerang kapal Encelia dan Layla, menyebabkan kebakaran di kedua kapal. Ini adalah serangan pertama terhadap kapal sejak Houthi mengumumkan blokade terhadap pengiriman yang terkait dengan Arab Saudi melalui Selat Bab el-Mandeb sebagai balasan atas blokade kerajaan terhadap Yaman dan serangan baru-baru ini di bandara internasional Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai pemberontak.
Bab el-Mandeb, yang terletak di ujung selatan Semenanjung Arab, merupakan titik tersumbat vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Sekitar 12 persen perdagangan dunia, termasuk seperempat lalu lintas kontainer global, melewati jalur ini menuju Terusan Suez. Serangan Houthi mengancam pengiriman minyak dari pelabuhan Yanbu Arab Saudi di Laut Merah, yang selama ini menjadi jalur alternatif setelah Selat Hormuz lumpuh.
Presiden AS Donald Trump mengancam akan menjatuhkan "hukuman militer besar-besaran" terhadap Houthi jika serangan terhadap kapal terus berlanjut. Dalam unggahan di media sosial, Trump menyatakan bahwa AS akan meminta pertanggungjawaban Iran karena Houthi adalah "surrogate dan/atau proxy Iran". Ancaman ini muncul di tengah eskalasi retorika antara Teheran dan Washington. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran akan menerapkan kebijakan "mata ganti mata" atas serangan AS terhadap infrastrukturnya, sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membalas dengan kebijakan "kepala ganti mata".
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa kawasan itu ditarik "ke dalam lingkaran konfrontasi yang semakin lebar" dan menyerukan penguatan upaya mediasi Pakistan untuk mengakhiri perang. Irak, yang memiliki hubungan dekat dengan AS dan Iran, mengirim Perdana Menteri Ali al-Zaidi ke Teheran untuk menyerukan perdamaian dan dialog. Namun, seorang diplomat Arab yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan negara-negara Teluk semakin pesimistis menemukan jalan keluar.
Bagi Indonesia, eskalasi ini menjadi alarm serius. Sebagai negara pengimpor minyak, lonjakan harga minyak di atas 100 dolar AS akan membebani anggaran subsidi energi dan mendorong inflasi. Selain itu, gangguan di dua jalur pelayaran utamaโSelat Hormuz dan Bab el-Mandebโberpotensi mengerek biaya logistik dan mengganggu pasokan barang, mengingat sebagian besar perdagangan Indonesia dengan Eropa dan Timur Tengah melewati Terusan Suez. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi dampak ini dengan memperkuat cadangan energi dan diversifikasi rute perdagangan.
Serangan Houthi juga memicu reaksi berantai di kawasan. Yordania mengaku mencegat tiga rudal pada Kamis pagi, sementara Kuwait melaporkan serangan drone di perbatasannya dengan Irak. Bahrain pun membunyikan sirene peringatan. Di dalam negeri AS, jajak pendapat menunjukkan perang tidak populer di kalangan warga Amerika, tercermin dari pengesahan sempit resolusi DPR untuk menghentikan perang, meskipun sebagian besar bersifat simbolis.
Pertanyaan besarnya kini: akankah eskalasi ini mendorong semua pihak kembali ke meja perundingan, atau justru menjerumuskan kawasan ke dalam konflik yang lebih luas dengan dampak global yang tak terbayangkan?



