Gigitan Kutu Pemicu Alergi Daging Mematikan: Kisah Remaja Australia yang Tewas karena Alpha-Gal Syndrome
Baca dalam 60 detik
- Seorang remaja di Australia menjadi korban pertama di dunia yang meninggal akibat mammalian meat allergy (MMA) yang dipicu gigitan kutu, setelah sebelumnya salah didiagnosis sebagai asma.
- Kasus MMA meningkat 22% per tahun sejak 2020 di Australia, dengan lebih dari 5.000 kasus terdeteksi, namun banyak yang tidak terdiagnosis karena gejalanya yang tidak konsisten.
- Alergi ini dapat dipicu oleh berbagai produk turunan mamalia, termasuk obat-obatan dan vaksin, sehingga menimbulkan risiko fatal bagi penderita yang tidak sadar.

Seorang remaja laki-laki di Australia meninggal dunia setelah mengonsumsi sosis sapi dalam sebuah perjalanan berkemah, menjadikannya kasus pertama di dunia yang dipastikan disebabkan oleh alergi daging mamalia yang dipicu gigitan kutu. Peristiwa tragis ini mengungkap bahaya tersembunyi dari kondisi yang dikenal sebagai alpha-gal syndrome atau mammalian meat allergy (MMA), yang kasusnya terus meningkat secara global.
Jeremy, remaja 16 tahun dari Sydney Utara, meninggal pada Juni 2022 setelah mengalami reaksi anafilaksis yang dipicu oleh alergi daging yang tidak terdiagnosis. Awalnya, penyebab kematiannya tercatat sebagai serangan asma. Namun, setelah penyelidikan yang didesak oleh keluarganya, pengadilan memutuskan pada Februari lalu bahwa serangan asma dan anafilaksis fatal itu dipicu oleh MMA akibat gigitan kutu. Ibu Jeremy, Myfanwy Webb, mengaku menyesali keputusan tidak meminta pemeriksaan lebih lanjut saat putranya mengalami kesulitan bernapas setelah makan di restoran setahun sebelumnya.
Alergi ini pertama kali dikaitkan dengan gigitan kutu oleh Profesor Sheryl van Nunen hampir 20 tahun lalu di Sydney. Di Australia, kutu paralysis timur menjadi penyebab utama. Menurut van Nunen, setelah dua kali gigitan kutu, 50% orang mengembangkan antibodi terhadap alpha-gal, molekul gula dalam air liur kutu. Dari jumlah itu, 15โ20% berpotensi menjadi alergi terhadap daging mamalia. Gejalanya bervariasi, mulai dari ruam kulit, bengkak, kram perut, hingga anafilaksis yang mengancam jiwa.
Diagnosis MMA seringkali sulit karena gejalanya muncul secara tidak konsisten. Van Nunen menyebutnya sebagai "alergi kapan saja, tapi tidak setiap saat". Faktor pemicu bisa berupa jenis daging, cara memasak, konsumsi alkohol, olahraga setelah makan, atau kurang tidur. Penderita hipersensitif bahkan bisa bereaksi terhadap produk kecantikan mengandung lanolin, kantong plastik dengan asam stearat, atau asap barbekyu. Elizabeth Rowley, seorang ibu tiga anak dari New South Wales, menghabiskan bertahun-tahun mencari diagnosis sebelum akhirnya diketahui menderita MMA. Ia sempat dianggap hipokondriak oleh dokter.
Bagi Indonesia, meskipun belum ada laporan resmi, ancaman MMA patut diwaspadai. Indonesia memiliki keanekaragaman kutu dan kebiasaan konsumsi daging yang tinggi. Masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan atau sering beraktivitas di alam terbuka berisiko terpapar kutu. Kesadaran akan hubungan antara gigitan kutu dan alergi daging masih rendah di kalangan tenaga kesehatan dan masyarakat umum. Kasus seperti Jeremy menunjukkan pentingnya diagnosis dini dan kewaspadaan terhadap gejala yang tidak biasa setelah konsumsi daging.
Van Nunen mengkhawatirkan 85% penderita yang tidak menyadari alerginya. Mereka bisa mengalami reaksi fatal saat menerima pengobatan, seperti vaksin yang mengandung gelatin atau obat cetuximab untuk kanker usus besar. Setidaknya satu kematian dilaporkan akibat reaksi terhadap cetuximab, dan satu lagi akibat transfusi darah. "Jika orang tahu apa yang bisa dilakukan kutu," ujar van Nunen. Kunci pencegahan adalah menghindari gigitan kutu dan membawa EpiPen bagi yang sudah terdiagnosis.
Webb kini bertekad meningkatkan kesadaran tentang MMA. Ia bekerja sama dengan rumah sakit tempat Jeremy dirawat untuk mengembangkan pelatihan tentang alergi ini, dan bersama van Nunen menyusun makalah yang akan dipresentasikan dalam konferensi tahun ini. "Sekarang semangat positif Jeremy benar-benar membantu orang lain, meskipun dia sudah tiada," kata Webb. Pertanyaannya, mampukah sistem kesehatan global, termasuk Indonesia, merespons ancaman yang terus tumbuh ini sebelum lebih banyak nyawa melayang?



