Pertemuan dengan Guardiola: Italia Mulai Berani Lepas dari Masa Lalu
Baca dalam 60 detik
- Direktur teknis anyar Italia, Paolo Maldini, dan penasihatnya Leonardo terbang ke Spanyol untuk bertemu Pep Guardiola, menandai perubahan haluan strategis Federasi Sepak Bola Italia.
- Langkah ini dinilai sebagai sinyal bahwa FIGC siap merekrut pelatih berprofil internasional, meninggalkan kebiasaan menunjuk figur lokal yang selama ini dianggap aman.
- Meski belum ada kepastian Guardiola menerima tawaran, pendekatan ini membuka peluang transformasi total skuad Azzurri yang tengah dalam masa transisi.

Langkah Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) menemui Pep Guardiola di Spanyol akhir pekan lalu menjadi bukti bahwa mereka serius merombak haluan, tidak lagi bergantung pada nama-nama besar masa lalu. Pertemuan antara direktur teknis baru Paolo Maldini dan penasihat khusus Leonardo dengan mantan pelatih Manchester City itu, seperti dilaporkan Sky Sport Italia, bukan sekadar spekulasi bursa pelatih โ melainkan sinyal bahwa Italia ingin membangun proyek jangka panjang yang berani.
Guardiola, yang kontraknya di Manchester City telah berakhir, memang belum tentu menerima tawaran menukangi tim nasional Italia. Namun, fakta bahwa dua tokoh kunci Azzurri rela terbang ke luar negeri untuk berdialog langsung menunjukkan adanya pergeseran mentalitas. Selama bertahun-tahun, FIGC cenderung memilih pelatih lokal atau figur yang sudah dikenal โ seperti Roberto Mancini atau Luciano Spalletti โ tanpa pernah benar-benar menjajaki opsi dari luar negeri. Kini, dengan mendekati Guardiola, mereka seolah ingin membuka lembaran baru.
Keputusan ini tidak bisa dilepaskan dari kegagalan Italia dalam dua edisi Piala Dunia terakhir. Absennya Azzurri dari turnamen global dua kali berturut-turut โ setelah 2018 dan 2022 โ memicu kritik tajam terhadap sistem pembinaan dan kebijakan rekrutmen pelatih. FIGC pun mulai menyadari bahwa mempertahankan status quo hanya akan memperpanjang masa paceklik prestasi. Dengan mendatangkan sosok sekelas Guardiola, Italia ingin membangun identitas permainan yang lebih modern dan kompetitif.
Bagi Indonesia, langkah FIGC ini bisa menjadi pelajaran berharga. PSSI pun kerap menghadapi dilema serupa: antara memilih pelatih lokal yang paham kultur sepak bola nasional atau mendatangkan arsitek asing dengan reputasi global. Keputusan Italia menunjukkan bahwa untuk keluar dari kebuntuan, kadang diperlukan keberanian mengambil risiko. Jika Guardiola benar-benar bergabung, ia akan membawa filosofi permainan yang sangat berbeda โ berbasis penguasaan bola, pressing tinggi, dan fleksibilitas taktik โ yang bisa mengubah total gaya bermain Italia.
Menurut analis sepak bola Italia, pertemuan ini juga mengindikasikan bahwa Maldini dan Leonardo diberi mandat penuh untuk merombak struktur teknis. Keduanya bukan sekadar figur seremonial; mereka adalah legenda yang memiliki visi jangka panjang. โIni adalah langkah paling berani yang dilakukan FIGC dalam satu dekade terakhir,โ ujar seorang pengamat sepak bola Italia. โMereka akhirnya berani keluar dari zona nyaman dan mencari yang terbaik, bukan yang paling nyaman.โ
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya meyakinkan Guardiola, tetapi juga menyelaraskan ekspektasi publik Italia yang terbiasa dengan hasil instan. Jika proyek ini berjalan mulus, Italia bisa kembali menjadi kekuatan yang diperhitungkan di kancah internasional. Namun, jika gagal, risiko kegagalan justru akan memperburuk krisis kepercayaan yang sudah menggerogoti federasi. Pertanyaannya: apakah Guardiola bersedia meninggalkan level klub untuk membangun kembali kejayaan Italia?



