Krisis Sepak Bola Italia: Cairo Desak Proyek Jangka Pendek, 100 Hari Pertama Krusial
Baca dalam 60 detik
- Presiden Torino, Urbano Cairo, menilai rencana jangka panjang FIGC untuk membangkitkan sepak bola Italia terlalu ambisius dan tidak sesuai dengan situasi darurat saat ini.
- Cairo menekankan bahwa 100 hari pertama kepemimpinan baru sangat menentukan, dan mendesak perubahan aturan serta investasi dalam pengembangan bakat dalam waktu dua hingga empat tahun.
- Kegagalan Italia lolos ke tiga Piala Dunia berturut-turut menjadi latar belakang desakan Cairo, yang mengingatkan bahwa proyek hingga 2032 terlalu lambat untuk mengatasi krisis.

Presiden Torino, Urbano Cairo, secara terbuka mengkritisi rencana jangka panjang yang diajukan oleh Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk membangkitkan kembali kejayaan sepak bola Negeri Pizza. Menurut Cairo, proyek ambisius yang digagas oleh Presiden FIGC Giovanni Malagò, direktur teknis Paolo Maldini, dan penasihat khusus Leonardo itu terlalu lamban dan tidak sesuai dengan urgensi krisis yang dihadapi Italia saat ini.
Dalam pertemuan dengan perwakilan 20 klub Serie A, Malagò, Maldini, dan Leonardo memaparkan visi mereka untuk merombak total sepak bola Italia, mulai dari penunjukan pelatih baru, pembentukan identitas tim yang solid, hingga pedoman pembinaan akademi muda. Namun, Cairo menilai bahwa setelah Italia gagal lolos ke tiga edisi Piala Dunia berturut-turut, pendekatan bertahap hingga delapan atau sepuluh tahun ke depan tidak lagi relevan.
“Saya menghormati Malagò, dan kesan pertama dari Maldini serta Leonardo sangat baik, tetapi kita harus bergerak lebih cepat,” tegas Cairo kepada wartawan. “Seperti dalam setiap aktivitas, 100 hari pertama sangat menentukan. Kita perlu mempercepat segalanya. Situasi negatif yang ada justru bisa menjadi modal awal yang baik, seperti yang saya alami saat membeli perusahaan yang hampir bangkrut.”
Cairo, yang juga dikenal sebagai pengusaha sukses di luar sepak bola, membandingkan situasi ini dengan pengalamannya menyelamatkan perusahaan yang terpuruk. Menurutnya, perubahan aturan untuk mengembangkan bakat muda dan peningkatan investasi harus segera dilakukan, bukan ditunda hingga satu dekade. “Saya lebih suka membicarakan proyek yang berjalan dua hingga empat tahun,” ujarnya. “Ini adalah keadaan darurat, bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dalam delapan hingga sepuluh tahun.”
Kritik Cairo juga menyasar aspek kepemimpinan. Ia mengingatkan bahwa pada 2014, Carlo Tavecchio terpilih sebagai Presiden FIGC dan sempat mengalami kesulitan akibat beberapa kesalahan publik, namun kemudian pemilihan Antonio Conte sebagai pelatih berhasil membangkitkan tim. “Malagò harus hati-hati, karena keputusan sulit ada di tangan presiden,” kata Cairo. “Apa yang kita hadapi sekarang adalah darurat, bukan proyek jangka panjang.”
Di sisi lain, dalam konferensi pers sebelumnya, Malagò menyebutkan bahwa proyek ini ditargetkan hingga EURO 2032, yang berarti sekitar enam tahun — lebih pendek dari perkiraan Cairo. Namun, bagi Cairo, tenggat waktu itu masih terlalu lama untuk mengatasi krisis yang sudah berlangsung lebih dari satu dekade. Desakan Cairo ini mencerminkan kegelisahan banyak pihak di sepak bola Italia yang menginginkan perubahan cepat dan nyata, bukan sekadar rencana ambisius di atas kertas.
Pertanyaan besarnya kini: akankah FIGC mendengarkan suara kritis dari dalam negeri, atau tetap bertahan pada visi jangka panjang yang berisiko kehilangan momentum? Dengan 100 hari pertama yang disebut Cairo sebagai penentu, langkah awal Malagò dan timnya akan menjadi indikator apakah sepak bola Italia benar-benar siap bangkit dari keterpurukan.



