Houthi Umumkan Embargo Maritim ke Arab Saudi, Ancaman Baru bagi Pasar Minyak Global
Baca dalam 60 detik
- Kelompok Houthi yang didukung Iran mendeklarasikan embargo laut terhadap Arab Saudi, mengancam jalur ekspor minyak melalui Laut Merah.
- Langkah ini memanaskan kembali konflik yang sempat mereda, berpotensi mengganggu pasokan energi global dan memperburuk krisis kemanusiaan Yaman.
- Para analis memperingatkan bahwa ancaman ini, jika dijalankan, dapat memicu ketidakstabilan harga minyak dan menguji ketahanan ekonomi Saudi.

Kelompok pemberontak Houthi yang berbasis di Yaman secara resmi mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi pada Senin (20/7), sebuah langkah yang langsung mengancam jalur ekspor minyak negara kerajaan tersebut dan memicu kekhawatiran baru di pasar energi global. Pengumuman itu disampaikan oleh juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, yang menyatakan bahwa blokade laut diberlakukan seketika berdasarkan prinsip "mata dibalas mata".
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, yang menurut Teheran telah kembali ke "perang skala penuh". Houthi, yang selama ini didukung Iran, tampaknya memanfaatkan situasi untuk memperluas tekanan terhadap Arab Saudi, sekutu utama AS di kawasan. Meski demikian, hingga saat ini belum jelas bagaimana kelompok tersebut akan menegakkan embargo tersebut, mengingat kemampuan angkatan laut mereka yang terbatas.
Ketegangan terbaru dipicu oleh upaya pesawat Iran mendarat di Sanaa pekan lalu, yang dianggap Arab Saudi sebagai pelanggaran atas hegemoni udara Yaman. Saudi dan sekutunya kemudian menyerang bandara Sanaa, memicu serangan balasan Houthi berupa rudal ke bandara di kota Abha, Arab Saudi. Insiden ini mengancam gencatan senjata tahun 2022 yang telah meredakan konflik meski masa berlakunya telah habis.
Menurut Farea al-Muslimi, peneliti di Chatham House, langkah Houthi ini merupakan upaya untuk "berperang dengan Arab Saudi". Ia menambahkan, "Perang dengan pengiriman Saudi adalah perang dengan dunia." Pernyataan ini menggarisbawahi risiko besar bagi perekonomian global, mengingat ketergantungan banyak negara pada pasokan minyak Saudi. Analis dari Basha Report, Mohammed al-Basha, menilai bahwa meskipun belum ada kapal yang diserang, pengumuman itu sendiri sudah cukup untuk mengganggu pelayaran dan menciptakan ketidakpastian di pelabuhan-pelabuhan Saudi.
Bagi Indonesia, eskalasi ini patut dicermati. Sebagai importir minyak mentah, Indonesia rentan terhadap gejolak harga energi global. Gangguan di jalur Laut Merah dapat memperpanjang rantai pasok dan meningkatkan biaya pengiriman, yang pada akhirnya berimbas pada harga bahan bakar domestik. Selain itu, ketidakstabilan di Timur Tengah kerap mendorong investor beralih ke aset aman, mempengaruhi nilai tukar rupiah dan pasar modal Indonesia.
Saree menegaskan bahwa embargo ini adalah respons terhadap blokade Saudi terhadap pelabuhan dan bandara Houthi, serta serangan terhadap bandara Sanaa. Ia memperingatkan bahwa setiap tindakan bodoh dari musuh Saudi akan dihadapi dengan eskalasi yang komprehensif dan tegas. Namun, banyak pengamat meragukan kemampuan Houthi untuk benar-benar memblokade pelabuhan Saudi secara efektif, mengingat superioritas angkatan laut Saudi dan koalisi pimpinan Saudi.
Ke depan, pertanyaan kuncinya adalah apakah Houthi akan beralih dari ancaman ke aksi nyata. Jika ya, konflik ini tidak hanya akan memperdalam penderitaan rakyat Yaman, tetapi juga mengguncang pasar energi global yang sudah rapuh akibat perang di Ukraina dan ketegangan di Selat Hormuz. Akankah komunitas internasional mampu meredam eskalasi sebelum terlambat?



