Presiden UEFA Boykot Final Piala Dunia, Bukan Sekadar Protes
Baca dalam 60 detik
- Aleksander Ceferin memboikot final Piala Dunia 2026 sebagai bentuk protes terhadap kebijakan FIFA yang dinilai merusak integritas sepak bola.
- Keputusan kontroversial FIFA, seperti intervensi politik dalam sanksi pemain dan ekspansi turnamen, memicu ketegangan antara UEFA dan FIFA.
- UEFA mengambil langkah konkret dengan membekukan harga tiket Euro 2028, sebagai perbandingan dengan harga tiket Piala Dunia yang melambung tinggi.

Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, memilih tidak menghadiri partai puncak Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol di New Jersey sebagai bentuk protes terbuka terhadap FIFA. Langkah ini bukan sekadar geste simbolis, melainkan puncak dari serangkaian ketidakpuasan UEFA terhadap kebijakan badan sepak bola dunia yang dinilai semakin jauh dari prinsip keadilan dan transparansi.
Ceferin, yang sebelumnya hadir di laga pembuka antara Meksiko dan Afrika Selatan di Mexico City, secara terang-terangan menolak untuk menyaksikan final. Salah satu pemicu utamanya adalah keputusan FIFA yang membebaskan striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, dari skorsing setelah adanya intervensi dari Presiden AS Donald Trump. UEFA mengecam langkah ini sebagai "belum pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dibenarkan".
Dalam pernyataan resminya, UEFA menegaskan bahwa ketika kepastian aturan tidak lagi dijamin oleh para penjaganya, integritas pertandingan dan kredibilitas kompetisi menjadi taruhan. Sikap ini menunjukkan bahwa konflik antara UEFA dan FIFA bukan hanya soal perbedaan pendapat, melainkan menyangkut fondasi tata kelola sepak bola global.
Di luar kasus Balogun, Ceferin juga menentang berbagai perubahan yang digagas Presiden FIFA Gianni Infantino. Pertunjukan setengah waktu yang melibatkan artis papan atas seperti Madonna, BTS, Shakira, dan Justin Bieber memperpanjang jeda pertandingan menjadi lebih dari 27 menit. UEFA memastikan praktik ini tidak akan diterapkan di Liga Champions atau Piala Eropa. Selain itu, wacana ekspansi Piala Dunia menjadi 64 tim juga mendapat tentangan keras dari UEFA.
Perbedaan pendekatan dalam aturan teknis juga mencuat. UEFA menginstruksikan wasit VAR-nya untuk tidak mempertimbangkan diving berdasarkan protokol mistaken identity yang diterapkan FIFA di Piala Dunia. Akibat protokol ini, striker Swiss Breel Embolo mendapat kartu merah di perempat final melawan Argentina. UEFA juga tidak akan memberikan kartu merah bagi pemain yang menutup mulut saat berhadapan dengan lawan, sebuah aturan yang justru menjadi andalan Infantino untuk efek jera.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki resonansi tersendiri. Sebagai negara dengan basis suporter sepak bola yang besar, kebijakan FIFA terkait harga tiket dan ekspansi turnamen akan berdampak langsung pada akses penggemar Indonesia untuk menyaksikan Piala Dunia di masa depan. Harga tiket yang melambung tinggi di AS menjadi peringatan bahwa sepak bola semakin eksklusif. Sementara itu, ketegangan antara UEFA dan FIFA bisa mempengaruhi alokasi tiket dan peluang Indonesia menjadi tuan rumah turnamen internasional di kemudian hari.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Infantino akan benar-benar mendorong rencana Piala Dunia 64 tim, dan bagaimana UEFA akan merespons jika hal itu terjadi. Dengan sikap Ceferin yang semakin vokal, bukan tidak mungkin perseteruan ini akan membawa perubahan besar dalam peta kekuasaan sepak bola dunia.



