Serangan Rudal Rusia ke Kapal Jagung di Laut Hitam Tewaskan 10 Orang
Baca dalam 60 detik
- Rudal Rusia menghantam kapal kargo berbendera Guinea-Bissau yang membawa jagung di dekat pelabuhan Odesa, menewaskan 10 orang.
- Serangan ini merupakan eskalasi terbaru dalam konflik Laut Hitam yang mengancam jalur ekspor gandum global, termasuk pasokan ke Indonesia.
- Ukraina kehilangan sepertiga kapasitas ekspor gandum via pelabuhan Laut Hitam akibat serangan rudal dan drone Rusia.

Serangan rudal Rusia terhadap sebuah kapal pengangkut jagung di dekat pelabuhan Odesa, Ukraina, pada Minggu (19/7) menewaskan 10 orang, menjadikannya insiden paling mematikan dalam gelombang kekerasan di Laut Hitam beberapa pekan terakhir. Kapal bernama Golden Leo yang berbendera Guinea-Bissau itu dihantam tiga rudal jelajah hingga menyebabkan kebakaran hebat.
Menurut keterangan Angkatan Laut Ukraina di Telegram, kapal tersebut diawaki oleh awak asal India dan Suriah. Operasi pencarian dan penyelamatan berlangsung sepanjang malam. Otoritas pelabuhan Ukraina mengonfirmasi sembilan awak kapal dan satu pilot maritim tewas, sementara delapan dari 17 awak berhasil diselamatkan. Pemilik kapal, Ocean Grace Shipping Ltd yang berbasis di Mumbai, belum memberikan tanggapan.
Serangan terpisah pada Senin (20/7) juga menargetkan infrastruktur di Odesa, pelabuhan terbesar Ukraina, menewaskan tiga orang dan melukai tiga lainnya. Kepala administrasi militer kota, Serhiy Lysak, mengatakan fasilitas infrastruktur menjadi sasaran tanpa merinci lebih lanjut. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menghantam reservoir bahan bakar di pelabuhan Odesa pada malam sebelumnya, seperti dilaporkan Interfax.
Laut Hitam telah menjadi titik panas sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Kesepakatan ekspor gandum yang sempat meredakan ketegangan kini mulai goyah. Baik Moskow maupun Kyiv meningkatkan serangan di Laut Hitam dan Laut Azov, menargetkan sumber pendapatan utama masing-masing. Ukraina menyerang infrastruktur energi Rusia, termasuk kapal tanker minyak, sementara Rusia mengintensifkan serangan terhadap pelabuhan dan kapal kargo Ukraina.
Bagi Indonesia, eskalasi ini berpotensi mengganggu pasokan gandum dan jagung impor. Ukraina menyumbang sekitar 6 persen ekspor gandum global dan 11 persen jagung dunia. Gangguan di jalur Laut Hitam dapat memicu kenaikan harga pangan domestik, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor gandum untuk kebutuhan industri tepung dan pakan ternak. Analis memperkirakan bahwa jika serangan terus berlanjut, rantai pasok global akan semakin tertekan.
Gubernur Odesa melaporkan bahwa serangan Rusia telah menewaskan 28 orang di wilayah tersebut selama Juli ini. Sementara itu, sumber Reuters menyebut serangan Ukraina memaksa Rusia membatasi pengiriman di Laut Azov, jalur yang menangani sekitar seperempat ekspor gandumnya. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran baru akan ketahanan pangan global.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah komunitas internasional mampu menekan kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan, atau justru menyaksikan konflik Laut Hitam semakin meluas dan mengancam stabilitas pasokan pangan dunia, termasuk Indonesia.



