Kecelakaan Maut di Perlintasan Semarang: Gubernur Jateng Jamin Biaya Perawatan Korban
Baca dalam 60 detik
- Seorang anak usia 9 tahun tewas dan dua orang luka-luka setelah sepeda motor yang ditumpangi tertabrak kereta barang di perlintasan Jalan Kokrosono, Semarang.
- Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memastikan pemerintah provinsi menanggung seluruh biaya perawatan dua korban luka di RSUP Dr Kariadi.
- Peristiwa ini menjadi pengingat akan lemahnya disiplin pengguna jalan di perlintasan sebidang, meskipun palang pintu telah ditutup dan peringatan diberikan.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memastikan pemerintah provinsi akan menanggung biaya perawatan dua korban luka dalam kecelakaan maut di perlintasan kereta api Jalan Kokrosono, Semarang Tengah, Senin (20/7) pagi. Seorang anak berusia 9 tahun meninggal dunia dalam insiden yang terjadi saat korban hendak berangkat sekolah di awal tahun ajaran baru.
Kecelakaan terjadi sekitar pukul 07.00 WIB ketika sepeda motor Honda Supra yang ditumpangi tiga orang melintas di perlintasan tanpa palang pintu yang berfungsi penuh. Kereta barang yang melaju dari arah barat ke timur menghantam bagian belakang kendaraan, menyebabkan ketiga korban terpental hingga ke pembatas jalan. Korban meninggal diketahui berinisial HRA (9), warga Kaliasin, Semarang Utara, sementara dua korban lukaโZIA (12) dan Rujito (45)โmengalami cedera kepala dan kini dirawat di RSUP Dr Kariadi Semarang.
Menurut keterangan kepolisian, petugas penjaga perlintasan telah menutup palang pintu dan memberikan peringatan kepada pengendara. Namun, pengendara sepeda motor tetap memaksa melintasi rel. "Apabila sudah ada tanda-tanda dari petugas, apalagi bunyi peringatan, palang pintu belum turun pun harus berhenti," tegas Luthfi dalam keterangannya. Ia menambahkan bahwa kecepatan dan jarak kereta api sulit diperkirakan oleh pengendara, sehingga kepatuhan terhadap rambu menjadi krusial.
Luthfi menyampaikan belasungkawa mendalam atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Ia menginstruksikan Dinas Kesehatan untuk berkoordinasi penuh dengan RSUP Dr Kariadi guna memastikan perawatan optimal bagi kedua korban luka. "Rumah sakit saya perintahkan untuk membantu penuh. Nanti Dinas Kesehatan berkoordinasi agar penderitaan keluarga itu dapat diringankan," ujarnya. Bantuan materiil juga telah diserahkan kepada keluarga korban.
Peristiwa ini menyoroti kembali persoalan keselamatan di perlintasan sebidang yang masih menjadi momok di Indonesia. Data dari PT KAI menunjukkan masih banyak pengendara yang nekat menerobos meskipun sirene telah berbunyi. Luthfi meminta masyarakat menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran berharga. "Ini menjadi perhatian kita agar tidak terulang kembali," pungkasnya.
Ke depan, pemerintah daerah bersama pihak terkait diharapkan dapat memperketat pengawasan di perlintasan rawan, termasuk mempertimbangkan pemasangan kamera pemantau atau penambahan petugas. Pertanyaannya, akankah tragedi seperti ini cukup untuk mengubah kebiasaan pengendara yang kerap mengabaikan keselamatan?



