Prabowo: Danantara Bukti Sejarah, Aset Kelolaan Tembus US$1.000 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menyebut Danantara sebagai pencapaian bersejarah yang mencatatkan Indonesia sebagai pemilik sovereign wealth fund dengan aset lebih dari US$1.000 miliar.
- Dalam 18 bulan pertama, Danantara telah mengkonsolidasikan 250 BUMN, menargetkan jumlah entitas BUMN menyusut dari 1.077 menjadi maksimal 350 pada akhir 2026.
- Kehadiran Danantara diharapkan menjadi instrumen strategis pengelolaan kekayaan negara untuk pembiayaan pembangunan dan cadangan energi bagi generasi mendatang.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembentukan Danantara—Day Anagata Nusantara—merupakan salah satu capaian monumental bangsa yang akan tercatat dalam sejarah. Untuk pertama kalinya, Indonesia memiliki sovereign wealth fund (SWF) yang menghimpun dan mengelola kekayaan negara secara terlembaga, dengan nilai aset yang diklaim mencapai lebih dari US$1.000 miliar.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026). Ia mengungkapkan bahwa Danantara bukan sekadar lembaga investasi, melainkan simbol kedaulatan ekonomi yang menjadi cadangan energi bagi generasi mendatang. "Ini menjadi cadangan, jadi energi masa depan anak dan cucu cicit kita," ujarnya.
Prabowo mengakui bahwa sebelum Danantara berdiri, sebagian besar aset negara tidak terpantau secara sistematis. Ia bahkan mengaku terkejut saat menerima laporan bahwa jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencapai 1.077 entitas—jauh melampaui perkiraannya yang hanya sekitar 300–350 perusahaan. Banyak BUMN ternyata memiliki anak, cucu, hingga cicit perusahaan yang membuat struktur kepemilikan negara menjadi rumit dan sulit diaudit.
Kehadiran Danantara, yang resmi dibentuk pada Februari 2025, menjadi jawaban atas kebutuhan akan pengelolaan investasi negara yang lebih transparan dan efisien. Lembaga ini dipimpin oleh Rosan Roeslani sebagai CEO, Dony Oskaria sebagai COO merangkap Kepala BP BUMN, dan Pandu Sjahrir sebagai Chief Investment Officer. Dalam 18 bulan pertama operasinya, Danantara berhasil menutup, mengonsolidasi, dan menggabungkan 250 BUMN, dengan target ambisius menyusutkan jumlah entitas menjadi maksimal 350 pada akhir 2026.
Bagi investor dan pelaku pasar di Indonesia, langkah ini menandakan perubahan fundamental dalam tata kelola BUMN. Konsolidasi yang masif diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi tumpang tindih bisnis, dan memperkuat daya saing perusahaan-perusahaan pelat merah di kancah global. Namun, tantangan tetap ada: memastikan proses restrukturisasi tidak mengorbankan tenaga kerja dan tetap menjaga nilai aset.
Prabowo optimistis bahwa Danantara akan menjadi instrumen strategis untuk membiayai proyek-proyek pembangunan nasional, mengurangi ketergantungan pada utang, dan menyediakan dana abadi bagi generasi penerus. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah sejauh mana Danantara mampu menjalankan peran ganda sebagai pengelola investasi yang menguntungkan sekaligus penjaga kepentingan jangka panjang bangsa.



