Moonshot AI Hentikan Sementara Langganan Baru: Lonjakan Permintaan Kimi K3 Kebablasan, IPO Hong Kong Terbayang
Baca dalam 60 detik
- Startup AI China Moonshot menghentikan pendaftaran pelanggan baru setelah model Kimi K3 yang baru dirilis memicu lonjakan permintaan yang melampaui kapasitas komputasi.
- Perusahaan tengah merombak struktur offshore untuk persiapan IPO di Hong Kong, dengan Goldman Sachs dan CICC sebagai penasihat, meski jadwal masih cair.
- Krisis kapasitas ini terjadi di tengah perlombaan AI China yang membutuhkan infrastruktur komputasi mahal, diperparah oleh embargo chip AS terhadap Nvidia.

Startup kecerdasan buatan asal China, Moonshot AI, terpaksa menghentikan sementara penerimaan pelanggan baru setelah model terbarunya, Kimi K3, kebanjiran peminat hingga melampaui batas kemampuan server. Langkah darurat ini diambil di tengah persiapan perusahaan untuk melantai di bursa Hong Kong dan perburuan pendanaan segar senilai miliaran dolar.
Moonshot, yang didirikan pada 2023 oleh peneliti AI lulusan Carnegie Mellon University, Yang Zhilin, termasuk startup paling diawasi di China. Dalam putaran pendanaan terakhir pada Mei lalu, perusahaan mengumpulkan lebih dari US$2 miliar dari investor seperti Meituan, China Mobile, dan CPE, sehingga total pendanaan historisnya menembus US$5,5 miliar. Kini, valuasi Moonshot mencapai US$30 miliar, dan mereka kembali memburu hingga US$2 miliar dana baru.
Kimi K3, yang dirilis pada Jumat pekan lalu, digadang sebagai model AI open-weight terbesar di dunia dengan 2,8 triliun parameter. Fokusnya pada tugas coding dan agen membuat model ini lebih mahal untuk dioperasikan dalam skala besar karena membutuhkan panggilan model berulang dan kapasitas inferensi tinggi. Akibatnya, dalam 48 jam pertama, permintaan pengguna melonjak tajam melebihi perkiraan dan mendekati batas klaster yang ada.
Moonshot menyatakan akan mengalokasikan daya komputasi yang tersedia untuk pengguna berbayar saat ini, sementara pendaftaran baru akan dibuka secara bertahap seiring penambahan kapasitas. Perusahaan juga berencana memecah paket keanggotaan menjadi dua, termasuk satu khusus untuk coding, demi mencocokkan sumber daya komputasi dengan kebutuhan pengguna secara lebih presisi.
Langkah ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi perusahaan AI China: meski permintaan dan minat investor menggebu-gebu, keterbatasan akses terhadap chip canggih buatan Nvidia akibat embargo AS menjadi kendala serius. Moonshot bukan satu-satunya; pesaing seperti DeepSeek juga berlomba mencari modal eksternal untuk memperluas kapasitas komputasi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat ekosistem AI di Asia Tenggara mulai tumbuh. Startup lokal yang mengadopsi model open-weight seperti Kimi K3 berpotensi terhambat oleh biaya infrastruktur yang tinggi. Regulator dan pelaku industri di Indonesia perlu mencermati bagaimana ketergantungan pada chip asing dan model AI raksasa bisa menimbulkan kesenjangan akses teknologi.
"Kimi K3 telah menerima lebih banyak cinta dari yang kami perkirakan, dan GPU kami merasakannya," tulis Moonshot di akun X mereka, seraya menambahkan bahwa slot langganan baru akan dibuka kembali dalam gelombang.
Meski menghadapi krisis kapasitas, Moonshot mengklaim Kimi K3 mampu bersaing dengan model-model unggulan AS dalam beberapa tugas teknis. Namun, analis menilai bahwa karena ukurannya yang raksasa, hanya sedikit pengguna yang akan meng-host model ini sendiri karena biaya perangkat keras yang mahal. Sementara itu, Alibaba, yang juga investor Moonshot, baru saja merilis model Qwen3.8-Max-Preview dengan 2,4 triliun parameter, menambah ketat persaingan di pasar AI China.
Pertanyaan besarnya: mampukah Moonshot menambah kapasitas komputasi cukup cepat untuk memenuhi permintaan yang meledak, atau justru IPO Hong Kong akan tertunda akibat ketidakpastian infrastruktur? Jawabannya akan menentukan apakah startup ini bisa mempertahankan momentum di tengah persaingan sengit dan tekanan geopolitik.



