Setelah Gagal Diakuisisi, IJM Corp Berencana Melepas Divisi Konstruksi ke Bursa
Baca dalam 60 detik
- Konglomerat Malaysia IJM Corp kembali mempertimbangkan pencatatan saham unit konstruksinya setelah tawaran akuisisi Sunway senilai US$2,7 miliar gagal tahun ini.
- Divisi konstruksi IJM menyumbang lebih dari 40% pendapatan grup pada 2025, dengan valuasi ekuitas potensial mencapai 4 miliar ringgit.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya IJM mengoptimalkan nilai aset di tengah persaingan ketat industri konstruksi Asia Tenggara.

Konglomerat Malaysia IJM Corp secara resmi mengumumkan tengah menjajaki kemungkinan pencatatan saham divisi konstruksinya di bursa efek, hanya beberapa bulan setelah tawaran akuisisi dari pesaing utamanya, Sunway, gagal terwujud. Langkah ini menjadi sinyal baru bagi pasar modal Asia Tenggara bahwa IJM berupaya memaksimalkan nilai bisnis intinya di tengah tekanan persaingan sektor infrastruktur.
Dalam pernyataan resmi pada Senin (20/7), IJM menyatakan akan menunjuk dan berdiskusi dengan pihak-pihak terkait untuk mengkaji berbagai opsi strategis, termasuk potensi initial public offering (IPO) unit konstruksinya. Meski demikian, perusahaan menegaskan belum ada keputusan final dan setiap rencana pencatatan saham masih memerlukan evaluasi lebih lanjut dari manajemen.
Rencana ini muncul setelah tawaran akuisisi senilai US$2,7 miliar dari Sunway terhadap IJM yang telah berdiri 43 tahun itu dinyatakan hangus pada awal 2025 karena gagal memenuhi persyaratan penerimaan. Kegagalan tersebut mendorong IJM untuk mencari jalan lain dalam mengoptimalkan nilai asetnya, terutama divisi konstruksi yang menjadi tulang punggung pendapatan grup.
Menurut analis pasar, langkah IJM mencerminkan tren konglomerat di Asia Tenggara yang mulai memisahkan unit bisnis inti untuk meningkatkan transparansi dan nilai pemegang saham. โDengan memisahkan divisi konstruksi, IJM bisa mendapatkan valuasi yang lebih tinggi dibandingkan jika tetap tergabung dalam grup konglomerat,โ ujar seorang analis dari sebuah firma riset di Kuala Lumpur. Namun, tantangan utama adalah kondisi pasar modal yang masih volatil dan persaingan ketat dari kontraktor asing, termasuk dari Indonesia.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung. Perusahaan konstruksi tanah air seperti PT Wijaya Karya (Wika) dan PT PP (Persero) Tbk kerap bersaing dengan IJM dalam proyek-proyek infrastruktur regional, terutama di bawah kerangka kerja sama ASEAN. Jika IJM berhasil melantai di bursa dengan dana segar yang besar, daya saingnya di kawasan bisa meningkat, menekan margin kontraktor Indonesia. Di sisi lain, investor Indonesia juga berpotensi mendapatkan akses ke saham IJM melalui bursa Malaysia, mengingat integrasi pasar modal ASEAN yang semakin erat.
Ke depan, pertanyaan kuncinya adalah apakah IJM akan mempertahankan kendali mayoritas atas divisi konstruksinya setelah IPO atau justru melepas sebagian besar saham untuk mengumpulkan dana ekspansi. Keputusan ini akan menentukan arah persaingan industri konstruksi di Asia Tenggara dalam beberapa tahun mendatang.



