Likuiditas Perbankan Tertekan: Bos Bank Mandiri Buka Suara soal Suku Bunga dan Rupiah
Baca dalam 60 detik
- Direktur Utama Bank Mandiri memperingatkan tiga risiko utama yang membayangi paruh kedua 2026: pergerakan suku bunga, likuiditas, dan stabilitas nilai tukar.
- Ketidakpastian global dan domestik, termasuk faktor geopolitik dan fluktuasi komoditas, menjadi perhatian serius bagi industri perbankan nasional.
- Meski waspada, bank pelat merah ini tetap optimistis menjaga pertumbuhan kredit produktif dan mempercepat transformasi digital.

Peringatan keras keluar dari jajaran direksi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk terkait tiga variabel makro yang dinilai dapat menggerus kinerja perbankan dalam enam bulan mendatang: suku bunga, likuiditas, dan nilai tukar rupiah. Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, secara gamblang menyampaikan kekhawatiran itu dalam paparan kinerja kuartal II-2026 yang digelar secara virtual, Kamis (23/7/2026).
Menurut Riduan, arah suku bunga menjadi faktor paling dominan yang akan menentukan dinamika pendanaan dan penyaluran kredit perbankan hingga akhir tahun. Kenaikan suku bunga acuan, baik oleh Bank Indonesia maupun The Fed, berpotensi menekan likuiditas dan meningkatkan biaya dana. "Beberapa hal yang kami cermati di sisa enam bulan ke depan, akan banyak hal terkait dinamika suku bunga, likuiditas terkait dengan kenaikan suku bunga, kemudian stabilitas nilai tukar dan ketidakpastian global dan domestik," ujarnya saat sesi tanya jawab.
Selain suku bunga, fluktuasi nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian serius. Bank Mandiri berkomitmen menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent) dalam mengelola risiko valas, terutama karena eksposur kredit dan pendanaan yang sensitif terhadap pergerakan kurs. Riduan menambahkan, perseroan akan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik, termasuk ketegangan geopolitik, serta mengantisipasi pergerakan harga komoditas dan pasar keuangan yang dapat memengaruhi kinerja perbankan nasional.
Konteks Indonesia: Peringatan ini datang di tengah tekanan global yang masih tinggi. Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk menstabilkan rupiah, sementara The Fed masih agresif. Bagi perbankan nasional, terutama bank dengan kredit valas besar, fluktuasi kurs bisa langsung berdampak pada kualitas aset. Likuiditas ketat juga berpotensi menaikkan suku bunga kredit, yang pada gilirannya menekan sektor riil dan UMKM.
Meski dihadapkan pada sejumlah tantangan, Riduan menegaskan bahwa Bank Mandiri tetap berkomitmen menjalankan fungsi intermediasi secara optimal. Perseroan akan terus mengakselerasi transaksi digital dan meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah. "Di tengah itu, kami tetap komitmen mengedepankan fungsi intermediasi, akselerasi transaksi digital, serta kualitas layanan yang semakin baik," tegasnya.
Dengan fundamental yang dinilai masih kuat, Riduan optimistis Bank Mandiri dapat mempertahankan momentum pertumbuhan kredit ke sektor-sektor produktif, termasuk UMKM, sekaligus mendukung berbagai agenda ekonomi nasional. Namun, optimisme itu tetap dibayangi oleh ketidakpastian yang membayangi paruh kedua tahun ini. Pertanyaan besarnya: seberapa jauh tekanan likuiditas dan suku bunga akan menguji ketahanan perbankan nasional?



