Konflik Selat Hormuz Dorong Harga Minyak Tembus US$90, Saham Emiten Energi Ikut Terbang
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah dunia menembus US$90 per barel dipicu eskalasi konflik di Selat Hormuz dan serangan ke fasilitas desalinasi Kuwait.
- Saham emiten energi di bursa Indonesia, seperti ENRG, AKRA, dan MEDC, mencatat kenaikan signifikan hingga 4,4% pada perdagangan hari ini.
- Ketegangan geopolitik yang berkelanjutan berpotensi mendorong harga energi lebih tinggi, menguntungkan emiten migas namun membebani konsumen domestik.

Eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia kembali memicu gejolak pasar energi global. Harga minyak mentah dunia melonjak hingga menembus level psikologis US$90 per barel pada Senin (20/7/2026), setelah serangan terhadap fasilitas desalinasi air di Kuwait untuk hari kedua berturut-turut dan penurunan drastis lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Dampaknya langsung terasa di bursa saham Indonesia, di mana saham-saham emiten energi mencatat penguatan signifikan.
Data perdagangan menunjukkan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) memimpin kenaikan dengan melonjak 4,40% ke Rp1.425 per saham. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), yang bergerak di distribusi BBM dan logistik, menguat 4,06% ke Rp1.410. Emiten migas swasta PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) turut naik 3,25% menjadi Rp1.270, sementara PT Elnusa Tbk (ELSA), penyedia jasa pendukung migas, menguat 2,34% ke Rp655. Adapun PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) justru stagnan di Rp1.500, meski sempat menyentuh level tertinggi Rp1.526.
Katalis utama lonjakan harga minyak adalah memburuknya situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global. Pemerintah Kuwait mengonfirmasi bahwa pabrik desalinasi airnya kembali diserang pada Senin, menyebabkan kebakaran dan mengganggu pasokan air bersih. Serangan ini dinilai sebagai eskalasi serius karena menargetkan infrastruktur sipil vital. Ketegangan semakin meningkat setelah Amerika Serikat dan Iran saling menuding melanggar gencatan senjata, memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi yang lebih luas.
Bagi investor Indonesia, reli saham energi ini menjadi angin segar di tengah ketidakpastian global. Namun, kenaikan harga minyak juga membawa risiko inflasi dan peningkatan beban subsidi energi dalam negeri. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi potensi kenaikan harga BBM dan dampaknya terhadap daya beli masyarakat. Para analis memperkirakan, jika konflik berlanjut, harga minyak bisa bertahan di atas US$90 per barel dalam jangka pendek, memberikan keuntungan bagi emiten migas tetapi menekan sektor transportasi dan manufaktur.
Pertanyaan yang mengemuka: seberapa lama reli ini akan bertahan? Dengan Selat Hormuz yang masih rawan dan tidak ada tanda-tanda de-eskalasi, investor disarankan untuk mencermati perkembangan geopolitik dan fundamental emiten secara cermat. Momentum ini bisa menjadi peluang, namun juga sarat risiko.



