Basarnas Perluas Zona Pencarian 18 Korban KM Nurul Salsa: Prediksi Hanyut ke NTB
Baca dalam 60 detik
- Tim SAR gabungan masih memburu 18 penumpang KM Nurul Salsa yang hilang sejak tenggelam di perairan Selayar pada 15 Juli lalu.
- Berdasarkan simulasi arus, Basarnas memperkirakan korban terbawa hingga perairan NTB, sehingga melibatkan personel dari Mataram dan Denpasar.
- Operasi SAR kini mencakup lima sektor seluas 1.980 mil laut persegi, dengan dukungan kapal patroli, pesawat, dan nelayan setempat.

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memprediksi delapan belas penumpang KM Nurul Salsa yang belum ditemukan setelah kapal tenggelam di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, pada Rabu (15/7) lalu, kemungkinan besar telah hanyut hingga ke wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Prediksi ini mendorong perluasan area pencarian dan pelibatan personel SAR dari Mataram dan Denpasar.
Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo mengungkapkan bahwa total penumpang dan awak kapal mencapai 78 orang. Dari jumlah tersebut, 59 orang berhasil selamat, satu orang ditemukan meninggal dunia, dan 18 lainnya masih dalam pencarian. "Sampai saat ini masih ada 18 korban sesuai dengan konfirmasi yang kita terima dari pihak keluarga yang melaporkan ke posko SAR," ujarnya di Jakarta, Senin (20/7).
Proses pencarian yang memasuki hari keenam ini menghadapi tantangan arus laut yang kuat. Berdasarkan analisis Search and Rescue Marine Prediction (SARMAP), korban diperkirakan terbawa arus ke arah barat daya menuju perairan NTB. "Kemungkinan hingga hari ke enam ini korban akan lebih banyak hanyut terbawa arah barat daya sekitar Pulau NTB, makanya kita libatkan SAR Mataram dan Denpasar untuk disiagakan," jelas Yudhi. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi jika korban ditemukan di luar zona awal pencarian.
Tim SAR gabungan telah berhasil mengevakuasi tujuh korban dalam kondisi selamat berkat bantuan nelayan setempat. "Pada operasi hari ke empat kita mengevakuasi lima orang dan hari kelima dua orang lagi dalam kondisi selamat," kata Yudhi. Para korban tersebut ditemukan terapung di laut dan segera dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan. Keberhasilan ini menunjukkan pentingnya peran komunitas nelayan dalam operasi pencarian di perairan terpencil.
Untuk mempercepat pencarian, Basarnas memperluas area operasi dari empat menjadi lima sektor dengan total luas 1.980 mil laut persegi. Armada yang dikerahkan meliputi KN SAR Kamajaya, KN SAR Puntadewa 250, KN SAR Pacitan 102, KRI Marlin 877, KRI Hiu 634, serta pesawat Boeing B737-200. Selain itu, nelayan dan potensi SAR lainnya juga dilibatkan. "Kalau kemarin hanya 4 sektor, hari ini kita tambah menjadi lima sektor dan areanya agak lebih luas," ujar Yudhi. Perluasan ini diharapkan dapat menjangkau titik-titik yang mungkin terlewat sebelumnya.
Insiden tenggelamnya KM Nurul Salsa kembali menyoroti lemahnya pengawasan keselamatan pelayaran di Indonesia, khususnya untuk kapal-kapal kecil yang kerap beroperasi tanpa dokumen lengkap. Data dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mencatat bahwa kecelakaan kapal penumpang di Indonesia masih tinggi, dengan faktor cuaca buruk dan kelebihan muatan sebagai penyebab utama. Masyarakat diimbau untuk selalu memeriksa kelayakan kapal sebelum berlayar dan mematuhi peringatan cuaca ekstrem dari BMKG.
Hingga berita ini diturunkan, operasi SAR masih terus berlangsung. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah perluasan zona dan penambahan armada cukup untuk menemukan 18 korban yang tersisa, ataukah diperlukan teknologi pencarian yang lebih canggih seperti sonar bawah air? Yang jelas, setiap jam yang berlalu mengurangi peluang korban ditemukan dalam kondisi selamat.



