Ribuan Demonstran 'Kecoa' Kepung Parlemen India: Gelombang Protes Meluas ke Berbagai Kota
Baca dalam 60 detik
- Gerakan Cockroach Janta Party (CJP) berhasil memobilisasi puluhan ribu pengunjuk rasa di Delhi, menuntut pengunduran diri menteri pendidikan India buntut dugaan kebocoran soal ujian.
- Aksi yang berlangsung Senin (22/7) itu dihadang aparat dengan barikade dan pentungan, menyebabkan puluhan luka-luka; polisi membantah tuduhan kekerasan berlebihan.
- Fenomena ini merepresentasikan krisis kepercayaan generasi muda India terhadap sistem pendidikan dan lapangan kerja, serta menjadi ujian bagi pemerintahan Modi menjelang pemilu.

Puluhan ribu pendukung gerakan Cockroach Janta Party (CJP) membanjiri kawasan Jantar Mantar, Delhi, Senin (22/7), menentang larangan polisi untuk berbaris menuju gedung parlemen. Mereka menuntut Menteri Pendidikan India, Dharmendra Pradhan, mundur atas dugaan kebocoran kertas ujian yang dinilai sebagai puncak dari krisis sistem pendidikan nasional.
Aksi yang dimulai sejak pagi hari itu berlangsung di bawah guyuran hujan deras. Peserta yang terdiri dari mahasiswa, orang tua, guru, hingga profesional seperti pilot komersial, duduk di jalan, mengibarkan bendera India, dan meneriakkan yel-yel. Namun, polisi dan paramiliter telah menutup setiap akses menuju parlemen dengan barikade beton dan kawat berduri. Bentrokan pecah ketika sebagian demonstran mencoba menerobos. Relawan dokter, Gaurish Batra, melaporkan setidaknya sepuluh orang dirawat dengan luka di kepala dan dugaan patah tulang akibat pentungan polisi. Pihak kepolisian Delhi belum memberikan tanggapan resmi.
Gerakan CJP lahir dari komentar kontroversial Ketua Mahkamah Agung India yang menyebut pengangguran muda sebagai "kecoa". Meski pernyataan itu kemudian ditarik, pendiri CJP, Dipke, justru mengadopsi label tersebut sebagai simbol perlawanan. Aksi Senin lalu menjadi yang terbesar sejak protes pertama digelar pada Juni 2024. Saat itu, CJP hanyalah kampanye daring kecil-kecilan. Kini, gerakan ini telah menjalar ke berbagai kota, mendapat dukungan dari kalangan profesional, aktivis, hingga politisi oposisi.
Kemarahan publik tidak hanya dipicu oleh dugaan kebocoran soal ujian, tetapi juga oleh meluasnya frustrasi terhadap minimnya lapangan kerja, transparansi, dan akuntabilitas pemerintah. Seorang pilot komersial, Samrat Khanna, yang sengaja mengambil cuti untuk bergabung, mengatakan, "Saya merasa harus berada di sini. Saya tidak bisa hanya menonton dari pinggir." Sentimen serupa diungkapkan banyak peserta yang menganggap aksi ini sebagai panggilan moral.
Di dalam gedung parlemen, sidang pembukaan musim hujan terus ditunda karena anggota oposisi berulang kali memprotes isu kebocoran soal dan masalah lainnya. Sementara itu, dua perwakilan CJP bertemu dengan Menteri Kesehatan JP Nadda dan menyerahkan surat tuntutan. Nadda berjanji akan membahasnya di internal pemerintah, namun pernyataannya di media sosial justru mendesak demonstran membubarkan diri demi "kembali normal". Langkah itu tidak meredakan ketegangan. Ribuan orang masih bertahan di Jantar Mantar hingga sore hari.
Menjelang malam, polisi bersenjata lengkap memasuki area Jantar Mantar dan mengumumkan bahwa izin berkumpul telah dicabut. Aparat mulai mendorong massa mundur, menyebabkan sebagian demonstran melarikan diri, sementara yang lain berpegangan tangan dan menolak pergi. Sempat muncul kabar bahwa Dipke ditahan, namun CJP kemudian mengklarifikasi bahwa polisi gagal menangkapnya karena dihalangi massa. Kepolisian Delhi membantah tuduhan tersebut.
Bagi Indonesia, gelombang protes ini menjadi pengingat betapa rentannya kepercayaan publik terhadap sistem pendidikan dan birokrasi jika tidak dikelola secara transparan. Kasus kebocoran soal ujian nasional di Indonesia pada masa lalu juga pernah memicu krisis serupa, meski tidak sebesar di India. Namun, skala mobilisasi dan keberanian generasi muda India untuk menentang aparat patut dicermati. Apakah gerakan seperti CJP akan menjadi model baru bagi aktivisme digital di Asia? Ataukah pemerintah India akan mampu meredamnya sebelum pemilu mendatang?



