Restrukturisasi BUMN Karya Digarap Bareng Himbara, Danantara Awasi Skema Pembiayaan
Baca dalam 60 detik
- BP BUMN dan Danantara menggelar pertemuan dengan Himbara untuk merancang skema pembiayaan restrukturisasi PTPP dan Adhi Karya.
- Restrukturisasi tidak hanya menunda utang, tetapi juga mendorong transformasi model bisnis, termasuk fokus Waskita Karya pada jalan tol.
- Langkah ini diharapkan memperkuat tata kelola dan arus kas BUMN Karya agar tidak kembali terjerat masalah keuangan di masa depan.

Badan Pengelola BUMN bersama BPI Danantara mulai merombak BUMN Karya dengan menggandeng perbankan pelat merah. Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa restrukturisasi keuangan perusahaan konstruksi pelat merah yang terlilit utang melibatkan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), yakni Bank Mandiri, BRI, dan BNI.
Dalam pertemuan yang digelar baru-baru ini, Dony bersama direksi Himbara serta jajaran PT PP (Persero) Tbk dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk membahas perkembangan restrukturisasi kedua emiten tersebut. Fokus utama adalah penyusunan skema dukungan pembiayaan yang sehat dan berkelanjutan, di mana setiap dana yang digelontorkan hanya akan diarahkan ke proyek-proyek produktif yang memiliki kelayakan bisnis dan arus kas terukur.
Menurut Dony, restrukturisasi ini bukan sekadar perpanjangan waktu pembayaran utang, melainkan titik balik untuk membangun fondasi bisnis yang lebih kuat. "Kita belajar dari pengalaman. Restrukturisasi ini harus menjadi titik balik untuk membangun BUMN Karya yang lebih kuat, lebih sehat, dan memiliki tata kelola yang lebih baik," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (20/7/2026).
Selain PTPP dan ADHI, PT Waskita Karya (Persero) Tbk juga masuk dalam daftar restrukturisasi. Dony menegaskan bahwa penyehatan Waskita tidak sekadar menunda kewajiban, melainkan membangun solusi permanen. Prosesnya mencakup valuasi aset, analisis struktur utang, proyeksi arus kas, hingga penentuan model bisnis yang paling tepat. Salah satu arah yang didorong adalah memperkuat fokus Waskita pada bisnis jalan tol, yang dinilai memiliki prospek pendapatan jangka panjang.
"Waskita jadi perusahaan tol kedua setelah Jasa Marga, itu tidak apa-apa asal dihitung dengan benar," kata Dony, dikutip dari akun Instagram resmi BP BUMN. Pernyataan ini menegaskan bahwa penguatan fokus bisnis tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya aset, melainkan oleh perhitungan bisnis yang matang dan struktur keuangan yang sehat.
Bagi investor dan pelaku pasar, langkah ini memberikan sinyal bahwa pemerintah serius membersihkan portofolio BUMN Karya. Keterlibatan Himbara menunjukkan adanya dukungan perbankan nasional, namun risiko kredit tetap perlu dicermati. Ke depan, keberhasilan restrukturisasi akan sangat bergantung pada disiplin tata kelola dan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas positif dari proyek-proyek yang dibiayai.
Dony menambahkan, pihaknya akan terus mengawal proses transformasi agar tidak berhenti pada penyelesaian jangka pendek. Dengan model bisnis yang lebih fokus, struktur keuangan yang lebih kuat, dan tata kelola yang semakin baik, BUMN Karya diharapkan mampu tumbuh berkelanjutan dan tidak kembali menghadapi persoalan serupa. Pertanyaannya, akankah skema ini cukup untuk memulihkan kepercayaan pasar terhadap emiten konstruksi pelat merah?



