LPS: Simpanan Kelas Menengah Menguat, Ekonomi Mikro Bergerak
Baca dalam 60 detik
- LPS mencatat pertumbuhan simpanan kelompok menengah dan atas tetap positif secara tahunan, meski ada perlambatan dalam tiga bulan terakhir.
- Jumlah penduduk tanpa rekening bank (unbanked) terus menurun sekitar 2 juta per tahun, kini tersisa 15 juta, menandakan inklusi keuangan meningkat.
- Aktivitas rekening aktif dan mutasi pembayaran naik, menjadi indikasi bahwa ekonomi di tingkat bawah tetap bergerak meski kredit UMKM lesu.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melaporkan bahwa meskipun pertumbuhan kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih rendah, sejumlah indikator mikro justru menunjukkan perbaikan aktivitas ekonomi masyarakat. Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, mengungkapkan bahwa data simpanan per kelompok pendapatan—khususnya kelas menengah—terus mencatatkan kenaikan, baik dari sisi nominal maupun jumlah rekening.
Dalam paparannya usai rapat dengan Komisi XI DPR RI, Senin (20/7/2026), Anggito mengakui bahwa pertumbuhan kredit UMKM hanya sekitar 1-1,6 persen per Juni, angka yang tampak rendah. Namun, ia menekankan bahwa gambaran ekonomi tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi. "Kalau kita bedah lagi, masih banyak indikator yang menunjukkan sektor mikro juga baik," ujarnya.
Data LPS menunjukkan bahwa simpanan kelompok menengah dan kelompok atas—termasuk saldo di atas Rp5 miliar—mengalami pertumbuhan signifikan secara tahunan (year-on-year). Meskipun secara year-to-date dalam tiga bulan terakhir terjadi perlambatan, tren kenaikan tetap berlanjut. Menurut Anggito, hal ini mencerminkan bahwa pendapatan masyarakat masih cukup untuk memenuhi konsumsi dan menyisakan tabungan. "Kalau saving naik, konsumsi juga ikut naik," jelasnya.
Lebih lanjut, LPS mencatat progres inklusi keuangan yang menggembirakan. Jumlah penduduk yang tidak memiliki rekening bank (unbanked) terus berkurang sekitar dua juta orang setiap tahunnya, dari sebelumnya diperkirakan tersisa 15 juta. Anggito menyebut bahwa peningkatan jumlah rekening aktif dan mutasi rekening untuk pembayaran serta penerimaan menjadi bukti bahwa ekonomi di tingkat bawah tetap bergerak. "Rekening yang aktif semakin banyak, yang tidak aktif semakin sedikit," katanya.
Bagi Indonesia, data ini memberikan sinyal optimisme di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi global. Aktivitas perbankan di segmen mikro dan menengah, yang menjadi tulang punggung perekonomian domestik, menunjukkan resiliensi. Namun, LPS juga mengingatkan bahwa perlambatan pertumbuhan kredit UMKM perlu diwaspadai, karena bisa menjadi indikasi adanya hambatan akses pembiayaan bagi sektor usaha kecil.
Ke depan, LPS berencana mengelaborasi lebih dalam data mutasi rekening super mikro untuk memetakan pola aktivitas ekonomi. Pertanyaannya, akankah tren positif simpanan ini mampu mendorong pertumbuhan kredit yang lebih tinggi, atau justru mencerminkan perilaku menabung yang berhati-hati di tengah ketidakpastian?



