IHSG Tembus 6.400: Konflik Timur Tengah dan Harga Komoditas Jadi Katalis
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 1,51% ke 6.430,15 pada sesi I perdagangan, didorong oleh reli saham energi dan properti.
- Kenaikan harga minyak mentah dan emas akibat memanasnya konflik Timur Tengah menjadi pemicu utama, ditambah stabilitas rupiah dan suku bunga rendah.
- Kapitalisasi pasar BEI bertambah nyaris Rp200 triliun menjadi Rp11.286 triliun, menandakan optimisme investor meski ada tekanan dari saham perbankan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menembus level psikologis 6.400 pada perdagangan sesi I hari ini, Kamis (23/7/2026), setelah sempat kesulitan menembus area tersebut dalam beberapa hari terakhir. Penguatan ini tidak hanya didorong oleh faktor domestik, tetapi juga oleh gejolak geopolitik global yang memicu kenaikan harga komoditas energi dan emas.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup di level 6.430,15, menguat 95,68 poin atau 1,51% dari penutupan sebelumnya. Rentang pergerakan indeks pada pagi hari cukup lebar, dari 6.338,24 hingga 6.437,20, dengan nilai transaksi mencapai Rp11,90 triliun dan volume 34,81 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,75 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar BEI pun ikut terdongkrak menjadi Rp11.286 triliun, bertambah hampir Rp200 triliun dibandingkan posisi kemarin.
Analis MNC Sekuritas, Herditya, menilai penguatan IHSG kali ini dipicu oleh aksi beli pada emiten konglomerasi dan sektor energi. "Kenaikan harga minyak mentah dan emas di tengah memanasnya kembali konflik Timur Tengah menjadi katalis utama," ujarnya. Selain itu, nilai tukar rupiah yang stabil terhadap dolar AS turut memberikan angin segar bagi pasar. Senada, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menambahkan bahwa valuasi saham-saham di level saat ini memang menarik, terutama sektor energi yang diuntungkan oleh kenaikan harga minyak dan sektor properti yang merespons positif keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga.
Dari sisi sektoral, properti memimpin kenaikan dengan lonjakan 6,12%, diikuti energi (3,21%), utilitas (2,91%), dan barang baku (2,86%). Sektor kesehatan menjadi satu-satunya yang melemah tipis 0,27%. Saham-saham berbasis komoditas, teknologi, dan perbankan menjadi motor penggerak indeks. Kontributor terbesar penguatan IHSG adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang menyumbang 9,56 poin, disusul PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) sebesar 7,68 poin, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) 6,74 poin, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) 5,21 poin. Sementara itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi pemberat utama dengan memangkas 4,41 poin, diikuti oleh PT Astra International Tbk (ASII), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).
Bagi investor Indonesia, penguatan IHSG kali ini memberikan sinyal bahwa pasar masih sensitif terhadap sentimen global, terutama harga komoditas. Namun, stabilitas rupiah dan kebijakan moneter yang akomodatif menjadi bantalan yang cukup kuat. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah reli ini dapat berlanjut, mengingat konflik Timur Tengah masih belum mereda dan tekanan dari sektor perbankan masih membayangi. Investor perlu mencermati pergerakan harga minyak dan perkembangan geopolitik dalam beberapa pekan ke depan.



