Prysmian Genggam Kontrak Raksasa €5,5 Miliar untuk Pasok Kabel Data Center
Baca dalam 60 detik
- Prysmian meneken kesepakatan jangka panjang hingga 10 tahun dengan Molex senilai €5,5 miliar untuk memasok kabel fiber optik bagi pusat data.
- Produsen kabel Italia itu akan menggelontorkan €1,25 miliar hingga 2031 untuk menggandakan kapasitas produksi di AS, menciptakan 1.000 lapangan kerja baru.
- Kontrak ini menjadi sinyal kuat lonjakan permintaan infrastruktur data center yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI).

Produsen kabel asal Italia, Prysmian, memastikan posisinya sebagai pemain kunci dalam revolusi pusat data global setelah menandatangani perjanjian pasokan fiber optik dengan Molex, anak usaha konglomerat AS Koch Industries, senilai hingga €5,5 miliar atau setara US$6,4 miliar. Kesepakatan yang berdurasi hingga sepuluh tahun ini mencakup pembayaran di muka sebesar €550 juta, menandai komitmen jangka panjang kedua perusahaan di tengah ledakan permintaan infrastruktur digital.
Kontrak tersebut tidak hanya mengamankan pendapatan Prysmian dalam satu dekade ke depan, tetapi juga mengirimkan sinyal kuat kepada pasar bahwa investasi di sektor data center—terutama yang terkait kecerdasan buatan (AI)—terus menggeliat. Saham Prysmian langsung merespons positif dengan naik lebih dari 2 persen, sementara analis menilai perjanjian ini memberikan kepastian lebih terhadap prospek margin keuntungan perseroan.
Chief Executive Prysmian, Massimo Battaini, menyebut investasi dan kesepakatan ini sebagai "momen transformatif" bagi divisi Digital Solutions perusahaan. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa langkah ini akan memperkuat posisi Prysmian sebagai "one stop shop" bagi kebutuhan kabel data center, mulai dari kabel listrik, kabel bawah laut jarak jauh, hingga fiber optik yang digunakan di dalam pusat data.
Prysmian berencana menginvestasikan €1,25 miliar hingga 2031 untuk memperluas produksi kabel optik dan serat, yang akan menggandakan kapasitas outputnya di Amerika Serikat. Saat ini, Prysmian merupakan satu dari hanya tiga produsen lokal di sektor tersebut di AS. Ekspansi ini diproyeksikan menciptakan 1.000 lapangan kerja baru secara global, dengan 600 di antaranya berada di AS. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi Prysmian untuk memenuhi permintaan dari hyperscaler dan penyedia infrastruktur data center yang terus bertaruh pada pertumbuhan AI.
Perusahaan memperkirakan kontrak-kontrak ini akan menghasilkan pendapatan tahunan hingga €1,1 miliar mulai 2031, dengan akumulasi tambahan €10 miliar pada 2035 dibandingkan tahun 2025. Angka ini menunjukkan besarnya skala bisnis yang diincar Prysmian di era komputasi awan dan AI.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan pentingnya investasi infrastruktur digital. Meskipun Prysmian berfokus pada pasar AS dan Eropa, lonjakan permintaan global terhadap kabel fiber optik berpotensi mempengaruhi rantai pasok dan harga komponen di Asia Tenggara. Indonesia, yang tengah gencar membangun pusat data nasional dan menggenjot konektivitas digital, perlu mencermati tren ini agar tidak tertinggal dalam persaingan infrastruktur teknologi regional.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah permintaan data center akan terus tumbuh, melainkan seberapa cepat para pemain seperti Prysmian mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan investasi miliaran euro dan kontrak raksasa di tangan, Prysmian jelas ingin menjadi jawaban atas dahaga infrastruktur digital dunia.



