Prabowo: S&P Justru Dukung Danantara, Kekhawatiran Rating Tak Terbukti
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa Standard & Poor's (S&P) justru memberikan penilaian positif terhadap pembentukan PT Danantara Sovereign Indonesia (DSI), membantah kekhawatiran penurunan peringkat kredit.
- S&P mempertahankan outlook Indonesia pada level stabil dengan status investment grade, menandakan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi meski ada kekhawatiran sebelumnya.
- Prabowo menekankan pentingnya kemandirian ekonomi dan tidak bergantung sepenuhnya pada penilaian lembaga pemeringkat internasional, seraya menyebut ketahanan pangan dan energi nasional masih kuat.

Presiden Prabowo Subianto mengonfirmasi bahwa kekhawatiran akan penurunan peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional tidak terbukti. Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7/2026), ia mengungkapkan bahwa Standard & Poor's (S&P) justru memberikan dukungan terhadap pembentukan PT Danantara Sovereign Indonesia (DSI), sebuah langkah yang sebelumnya dianggap berisiko oleh sejumlah pihak.
"Tadinya kita ditakut-takuti, ada rating agency global yang akan kasih rapor jelek, kita akan diturunkan supaya tidak ada yang mau investasi," ujar Prabowo di hadapan para menteri. Namun, hasil penilaian terbaru S&P justru menunjukkan arah sebaliknya. Lembaga pemeringkat global itu menilai pembentukan DSI sebagai langkah yang tepat dan berpotensi memperkuat penerimaan negara. "Mereka katakan itu langkah tepat bagi Indonesia dan meningkatkan revenue kita," tambahnya.
Tak hanya itu, S&P juga mempertahankan prospek (outlook) Indonesia pada level stabil. Status investment grade di kelompok emerging market tetap terjaga, memberikan sinyal positif bagi investor global. Keputusan ini menjadi angin segar di tengah kekhawatiran sebelumnya bahwa kebijakan fiskal dan pembentukan badan usaha baru bisa memicu penurunan peringkat.
Meski mendapat pengakuan internasional, Prabowo mengingatkan agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada penilaian lembaga asing. "Bukan kita harus selalu puas rating bangsa lain. Sekali lagi percaya pada kekuatan kita sendiri," tegasnya. Menurutnya, fundamental ekonomi domestik jauh lebih penting. Ia menyebut ketahanan pangan aman, sektor energi cukup kuat, dan sumber daya air melimpah meski masih perlu perbaikan manajemen di beberapa daerah.
Pernyataan ini muncul di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Bagi investor dan pelaku pasar di Indonesia, keputusan S&P memberikan kelegaan sementara. Namun, pertanyaan besar tetap mengemuka: apakah Indonesia mampu mempertahankan momentum ini tanpa bergantung pada opini asing? Prabowo tampaknya ingin menjawab dengan memperkuat fondasi ekonomi dari dalam.



