Optimisme CFO Inggris terhadap AI Meningkat, Kekhawatiran Geopolitik Mereda
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 73% CFO perusahaan besar Inggris optimistis AI akan meningkatkan kinerja bisnis, naik signifikan dari 39% dua tahun lalu.
- Kekhawatiran terhadap geopolitik turun ke level terendah dalam dua tahun, meski risiko domestik seperti produktivitas masih tinggi.
- Survei Deloitte ini mengindikasikan pergeseran prioritas CFO dari mitigasi risiko eksternal ke adopsi teknologi untuk efisiensi.

Optimisme para direktur keuangan (CFO) di Inggris terhadap kecerdasan buatan (AI) melonjak ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir, sementara kekhawatiran mereka terhadap risiko geopolitik justru menunjukkan penurunan paling tajam. Temuan ini terungkap dalam survei terbaru yang dirilis Deloitte pada Senin (20/7), menandai perubahan sentimen di kalangan eksekutif keuangan perusahaan-perusahaan terbesar di Britania Raya.
Survei yang menjaring pendapat 58 CFO dari berbagai sektor pada 1โ13 Juli 2026 itu mencatat 73% responden menyatakan optimistis AI akan berdampak positif terhadap kinerja bisnis mereka. Angka ini melonjak dari 59% pada akhir tahun lalu dan 39% dua tahun sebelumnya. Lonjakan optimisme ini mencerminkan semakin matangnya persepsi terhadap AI sebagai alat strategis, bukan sekadar eksperimen teknologi.
Penurunan kekhawatiran geopolitik menjadi sorotan utama. Rata-rata skor kekhawatiran terhadap risiko geopolitik turun dari 79 pada awal tahun menjadi 68โlevel terendah dalam dua tahun terakhir. Hal ini terjadi meskipun konflik Iran masih berlangsung. Menurut Debapratim De, Ekonom Utama Deloitte UK, โPerekonomian global sejauh ini mampu menahan guncangan akibat konflik di Iran lebih baik dari perkiraan banyak pihak. Namun, kekhawatiran terhadap geopolitik dan daya saing domestik masih tinggi. CFO terus memprioritaskan pengurangan biaya dan pengendalian kas di lingkungan ini.โ
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap produktivitas rendah dan lemahnya daya saing ekonomi Inggris hampir tidak berubah di angka 63. Sementara itu, kekhawatiran terkait harga energi tinggi atau gangguan pasokan energi turun dari 70 pada kuartal pertama menjadi 60. Pola ini menunjukkan bahwa para CFO mulai mengalihkan fokus dari risiko eksternal ke peluang internal, terutama melalui adopsi AI.
Bagi Indonesia, tren ini memberikan gambaran bahwa optimisme terhadap AI tidak hanya terjadi di negara maju. Perusahaan-perusahaan di Indonesia, khususnya di sektor keuangan dan manufaktur, mulai melirik AI untuk efisiensi operasional. Namun, tantangan geopolitik global seperti konflik Timur Tengah dan fluktuasi harga energi tetap menjadi perhatian. Survei Deloitte ini bisa menjadi sinyal bagi CFO di Indonesia untuk mulai mengukur kesiapan adopsi AI di tengah ketidakpastian global.
Ke depan, pertanyaan kuncinya adalah apakah optimisme ini akan bertahan jika ketegangan geopolitik kembali meningkat atau jika produktivitas domestik Inggris tidak kunjung membaik. Para CFO tampaknya bertaruh pada AI sebagai jawaban, namun risiko makroekonomi masih mengintai.



