Panggung Spektakuler Final Piala Dunia: Madonna hingga BTS Meriahkan Babak Istirahat
Baca dalam 60 detik
- Pertunjukan babak istirahat final Piala Dunia 2024 di New Jersey menampilkan deretan bintang global seperti Madonna, Shakira, Justin Bieber, BTS, dan Coldplay, menjadi yang pertama dalam sejarah turnamen.
- Acara 12 menit ini bertujuan menggalang dana untuk FIFA Global Citizen Education Fund yang telah mengumpulkan lebih dari US$60 juta untuk mendukung akses olahraga dan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu.
- Meskipun menuai kritik karena memperpanjang jeda pertandingan menjadi 27 menit, pertunjukan ini dinilai sebagai gebrakan baru yang memadukan hiburan kelas Super Bowl dengan misi sosial global.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, babak istirahat final berubah menjadi panggung spektakuler ala Super Bowl. Di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, deretan musisi papan atas dunia seperti Madonna, Shakira, Justin Bieber, BTS, dan Coldplay tampil dalam pertunjukan 12 menit yang juga menjadi ajang penggalangan dana untuk pendidikan anak-anak kurang mampu.
Pertunjukan yang digelar pada Minggu (19/7) tersebut menyita perhatian global. Dengan durasi total jeda mencapai 27 menit—termasuk waktu untuk pertunjukan—acara ini menjadi yang terpanjang dalam sejarah final Piala Dunia. Meski menuai kritik dari sebagian pihak yang khawatir akan pengaruhnya terhadap performa pemain, FIFA dan panitia menegaskan bahwa misi sosial di balik acara ini jauh lebih besar.
Gianni Infantino, Presiden FIFA, memperkirakan setidaknya dua miliar pasang mata akan menyaksikan pertunjukan ini. Organisator bahkan menyebutnya sebagai "kumpulan seniman terbesar untuk sebuah tujuan sejak Live Aid" dan "pertunjukan musik 11 menit yang paling banyak ditonton dalam sejarah".
Pertunjukan dibuka dengan kemunculan Madonna yang diangkut dengan mobil dune buggy yang dikemudikan legenda Brasil, Ronaldo dan Ronaldinho. Ia membawakan lagu Music yang kemudian dilanjutkan dengan orkestra gabungan New York Philharmonic, Simon Bolivar Symphony Orchestra dari Venezuela, dan pemain biola asal Iran, Bijan Mortazavi, membawakan Seven Nation Army—lagu yang telah menjadi anthem di stadion-stadion sepak bola Amerika.
Tak ketinggalan, grup K-pop BTS tampil membawakan Dynamite dengan lirik khusus bertema sepak bola. Momen kejutan muncul ketika Jason Sudeikis dan Brendan Hunt—bintang serial Ted Lasso—naik panggung memperkenalkan Justin Bieber yang membawakan versi emosional Everything Hallelujah. Shakira bersama Burna Boy kemudian mengajak penonton bergoyang dengan lagu tema Piala Dunia, Dai Dai, yang diiringi penari Uganda.
Penghormatan khusus diberikan kepada legenda sepak bola Brasil, Pele, yang meninggal pada 2022. Layar raksasa menampilkan rekaman pidato Pele pada 1977 di stadion yang sama setelah pertandingan profesional terakhirnya. Pertunjukan ditutup oleh PS22 Chorus—paduan suara sekolah dasar New York yang viral di YouTube—bersama Coldplay dan karakter The Muppets serta Sesame Street.
Bagi Indonesia, pertunjukan ini menjadi cerminan bagaimana sepak bola bisa menjadi katalis perubahan sosial. Dengan populasi muda yang besar dan antusiasme tinggi terhadap sepak bola, model penggalangan dana seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi inisiatif serupa di Tanah Air. Apalagi, FIFA telah mengumumkan 58 kelompok penerima hibah yang tersebar di Ghana, Afrika Selatan, Prancis, hingga Inggris—menunjukkan bahwa dampak program ini bersifat global.
Ke depan, keberhasilan acara ini membuka peluang bagi Piala Dunia untuk terus mengadopsi elemen hiburan kelas dunia tanpa meninggalkan esensi olahraga. Pertanyaannya, mampukah FIFA menyeimbangkan antara kepentingan komersial, hiburan, dan misi sosial tanpa mengorbankan kualitas pertandingan? Jawabannya akan terlihat pada edisi-edisi mendatang.



