Amorim di Depan Sejarah: Kalahkan Juventus, Ukir Rekor AC Milan yang Terkubur 68 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Pelatih baru AC Milan, Ruben Amorim, berpeluang mencatatkan tiga kemenangan beruntun di awal musim Serie A, sebuah pencapaian yang terakhir kali terjadi pada 1958.
- Kemenangan atas Juventus di Turin akan mengukuhkan Amorim di jajaran elite pelatih Milan, bahkan melampaui catatan Sacchi, Capello, dan Ancelotti.
- Laga ini menjadi ujian sesungguhnya bagi filosofi sepak bola Amorim dan menentukan arah persaingan scudetto musim ini.

Ruben Amorim berdiri di ambang pintu sejarah. Pelatih anyar AC Milan itu hanya butuh satu kemenangan lagi, tepatnya saat melawat ke markas Juventus pada Minggu malam, untuk menjadi pelatih pertama dalam 68 tahun terakhir yang memenangi tiga laga perdana Serie A bersama Rossoneri.
Rekor tersebut terakhir kali diukir pada 1958 oleh Cina Bonizzoni. Sejak saat itu, tak ada satu pun arsitek permainan Milan, termasuk nama-nama sebesar Arrigo Sacchi, Fabio Capello, atau Carlo Ancelotti, yang mampu menyamai catatan itu. Bahkan, dari ketiga legenda tersebut, hanya Capello yang sempat meraih dua kemenangan beruntun di awal masa baktinya, tetapi kemudian gagal di laga ketiga.
Amorim sendiri sudah mengawali musim 2026-27 dengan sempurna. Dua laga pertama berhasil dimenangi, yakni 2-1 atas Torino di kandang lawan dan 2-0 saat menjamu Venezia di San Siro. Kini, ujian sebenarnya datang: menghadapi Juventus di Allianz Stadium, laga yang kerap menjadi penentu mentalitas tim penantang scudetto.
Sejarah mencatat betapa sulitnya misi Amorim. Sacchi, yang kemudian membawa Milan meraih kejayaan Eropa, justru menelan kekalahan pada laga keduanya melawan Fiorentina. Capello, yang memulai karier kepelatihannya di Milan dengan dua kemenangan, harus puas berbagi angka 1-1 dengan Juventus pada laga ketiganya. Sementara Ancelotti, yang juga menjadi ikon di San Siro, bahkan gagal meraih kemenangan di laga perdananya karena ditahan imbang Piacenza.
Bagi pengamat sepak bola Italia, pencapaian semacam ini bukan sekadar angka. Ia merefleksikan seberapa cepat seorang pelatih mampu menanamkan ide permainannya. Amorim, yang dikenal dengan pendekatan taktis modern dan pressing tinggi, sejauh ini berhasil membangun fondasi yang solid. Namun, Juventus adalah lawan dengan kualitas berbeda. Bianconeri selalu tampil agresif di kandang dan memiliki lini tengah yang tangguh.
Dari perspektif Indonesia, laga ini menarik disimak karena semakin banyak penggemar sepak bola Tanah Air yang mengikuti perkembangan Serie A, terutama setelah beberapa pemain Asia Tenggara merumput di liga Eropa. Gaya bermain Amorim yang dinamis juga kerap dibandingkan dengan pendekatan pelatih-pelatih modern di Liga 1, meski tentu dengan skala yang berbeda. Kesuksesan Amorim bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan taktik sepak bola di Indonesia yang masih sering mengandalkan permainan fisik.
Jika Amorim berhasil memenangi laga kontra Juventus, ia tidak hanya mengukir namanya dalam buku sejarah Milan, tetapi juga memberi sinyal kuat bahwa era baru kejayaan Rossoneri telah dimulai. Sebaliknya, jika gagal, ia akan bergabung dengan daftar panjang pelatih hebat yang kandas di laga ketigaโsebuah pengingat bahwa di Serie A, konsistensi adalah segalanya.
Pertanyaannya kini: akankah Amorim mampu melewati ujian yang bahkan gagal dilewati para pendahulunya yang legendaris? Atau justru Juventus akan menjadi batu sandungan pertamanya di musim yang masih panjang ini?



