Ryan Fox Ukir Sejarah: Juara British Open 2024, Pegolf Selandia Baru Kedua dalam 61 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Ryan Fox memenangi British Open 2024 setelah birdie dramatis di hole ke-18, mengalahkan Cameron Young dengan selisih satu pukulan.
- Kemenangan ini menjadikan Fox pegolf Selandia Baru kedua yang merebut gelar major tersebut, setelah Bob Charles pada 1963.
- Prestasi Fox menegaskan dominasi pegolf non-Amerika di turnamen elite dan membuka peluang bagi pegolf Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, untuk bersaing di level tertinggi.

Ryan Fox memastikan namanya tercatat dalam sejarah golf dunia setelah menjuarai British Open ke-154 di Royal Birkdale, Inggris, Minggu (19/7). Pegolf berusia 39 tahun asal Selandia Baru itu menuntaskan pertarungan sengit dengan birdie pada hole ke-18, mengungguli pesaing terdekatnya, Cameron Young, dengan keunggulan satu pukulan. Kemenangan ini bukan hanya prestasi pribadi, tetapi juga membawa pulang gelar major bagi Selandia Baru untuk pertama kalinya dalam 61 tahun, setelah Bob Charles menjuarai turnamen yang sama pada 1963.
Fox menyelesaikan putaran final dengan skor 68, menjadikan total akumulasinya 270 pukulan (18 under par). Sementara itu, Young yang memulai hari di posisi ke-20, mencatatkan putaran spektakuler 64 dan sempat memimpin klasemen sementara selama dua jam. Namun, ketenangan Fox di momen krusial menjadi pembeda. Pukulan pendekatan yang presisi dan putt birdie sepanjang 20 kaki di green ke-18 disambut gemuruh ribuan penonton yang memadati lapangan.
Turnamen tahun ini menyajikan drama yang menegangkan. Sam Burns, pemimpin setelah putaran ketiga, harus puas di posisi ketiga dengan skor delapan under par. Sementara itu, pemain nomor satu dunia Scottie Scheffler dan favorit tuan rumah Tommy Fleetwood berbagi tempat keempat dengan skor tujuh under par. Persaingan ketat terjadi sepanjang hari, dengan beberapa pemain sempat mengancam posisi puncak sebelum akhirnya meredup.
Kunci kemenangan Fox terletak pada kebangkitan di enam hole terakhir. Setelah sempat kehilangan momentum di pertengahan putaran, ia mencatatkan empat birdie yang mengubah keadaan. Meskipun gagal memanfaatkan hole ke-17 karena pukulan tee yang masuk bunker, Fox tetap tenang dan membutuhkan birdie di hole ke-18 untuk menang mutlak. Tiga pukulan terakhirnyaโdrive panjang, pendekatan akurat, dan putt dinginโakan dikenang sebagai momen legendaris dalam olahraga Selandia Baru.
Bagi pegolf Asia-Pasifik, kemenangan Fox menjadi inspirasi bahwa pemain dari kawasan ini mampu bersaing di panggung terbesar golf dunia. Indonesia, yang memiliki potensi pegolf muda seperti Rory Hidayat dan Jonathan Wijono, dapat melihat capaian ini sebagai tolok ukur. Federasi Golf Indonesia (PGI) diharapkan semakin gencar mengirimkan atlet ke turnamen internasional untuk mengasah kemampuan. Dengan persaingan yang semakin ketat, bukan tidak mungkin suatu saat pegolf Indonesia mampu mengulang sukses Fox.
Ke depan, tantangan bagi Fox adalah mempertahankan konsistensi di level elite. Usianya yang 39 tahun mungkin menjadi pertanyaan, namun performa di Royal Birkdale membuktikan bahwa pengalaman dan ketenangan mental adalah aset berharga. Sementara itu, Young dan Burns diprediksi akan terus menjadi ancaman di turnamen-turnamen mendatang. Pertanyaan besarnya: mampukah Fox mengukir prestasi serupa di ajang major lainnya, atau akankah gelar ini menjadi puncak kariernya?



