Tes Doping Tengah Malam Ganggu Istirahat Pogacar dan Vingegaard di Tour de France
Baca dalam 60 detik
- Tadej Pogacar dan Jonas Vingegaard menjalani tes doping dadakan pada pukul 2 dan 5 dini hari, mengurangi waktu tidur mereka sebelum etape pegunungan.
- Aturan pengujian tanpa pemberitahuan sejak 2016 memungkinkan tes antara pukul 23.00-06.00, namun para pembalap mengeluh dampaknya terhadap performa.
- Insiden ini memicu perdebatan tentang keseimbangan antara integritas anti-doping dan kesejahteraan atlet, relevan bagi Indonesia yang mulai gencar melakukan tes serupa.

Dua pembalap papan atas Tour de France, Tadej Pogacar dan Jonas Vingegaard, harus rela begadang setelah petugas anti-doping melakukan tes urine dadakan pada dini hari, menjelang etape ke-15 yang berat di pegunungan. Kejadian ini tidak hanya mengganggu istirahat mereka, tetapi juga memicu perdebatan tentang batas antara penegakan aturan dan kesejahteraan atlet.
Pogacar, yang mengenakan jersey kuning, diuji pada pukul 5 pagi waktu setempat, sementara Vingegaard dibangunkan tiga jam lebih awal, tepat pukul 2 dini hari. Keduanya mengaku kesulitan tidur kembali setelah proses yang memakan waktu hingga 40 menit. โSaya hanya tidur empat jam. Tidak bisa kembali tidur. Sungguh tidak menyenangkan terbangun dari mimpi indah,โ ujar Pogacar kepada wartawan sebelum start.
Vingegaard, juara bertahan dua kali, menyuarakan kekesalan serupa. Menurutnya, tes semacam ini memang penting untuk menjaga kebersihan olahraga, tetapi jika sampai mengorbankan kualitas tidur dan performa, ada yang perlu dievaluasi. โTentu bagus mereka menguji, tapi kalau mengganggu performa dan tidur, saya rasa itu tidak baik,โ katanya.
Aturan pengujian tanpa pemberitahuan di Tour de France telah diterapkan sejak 2016, memberikan kewenangan kepada International Testing Agency (ITA) untuk melakukan tes dadakan antara pukul 23.00 dan 06.00. Tujuannya jelas: mencegah praktik doping yang mungkin lolos dari tes rutin. Namun, para pembalap kerap mengeluh karena jadwal yang tidak terduga mengganggu siklus tidur, terutama saat etape kritis seperti hari Minggu itu.
Konteks ini relevan bagi Indonesia, di mana Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI) mulai mengintensifkan tes di luar kompetisi, termasuk pada jam-jam tak lazim. Atlet-atlet Tanah Air, terutama di cabang olahraga endurance seperti balap sepeda dan atletik, perlu mewaspadai kemungkinan tes serupa. Di sisi lain, regulator perlu mempertimbangkan aspek kesejahteraan atlet agar penegakan aturan tidak kontraproduktif.
Menurut analis olahraga dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Kurniawan, โTes doping dadakan memang diperlukan untuk menjaga kredibilitas olahraga. Namun, waktu pelaksanaan harus dipertimbangkan dengan matang agar tidak mengganggu performa atlet secara signifikan, terutama pada hari pertandingan.โ Ia menambahkan bahwa komunikasi antara badan anti-doping dan tim atlet perlu ditingkatkan untuk mencari solusi win-win.
Etape ke-15 yang digelar Minggu itu menempuh rute sepanjang 183,9 kilometer dengan medan pegunungan yang menanjak. Dengan kondisi fisik yang kurang prima akibat kurang tidur, Pogacar dan Vingegaard harus berjuang ekstra untuk mempertahankan posisi mereka di klasemen. Pertanyaannya, apakah tes semacam ini akan terus dipertahankan tanpa penyesuaian, atau justru memicu reformasi prosedur di masa depan?



