Wales Hajar Tonga di Laga Uji Coba Terakhir Jelang Commonwealth Games
Baca dalam 60 detik
- Wales mengalahkan Tonga 65-52 dalam pertandingan pemanasan tanpa status internasional di Cardiff.
- Kemenangan ini menjadi momentum positif bagi Wales yang akan menghadapi Uganda di laga perdana Commonwealth Games.
- Pelatih kepala Emily Handyside akan meninggalkan posisinya setelah turnamen, menandai akhir era bagi tim Welsh Feathers.

Wales menuntaskan persiapan menuju Commonwealth Games dengan kemenangan meyakinkan 65-52 atas Tonga dalam laga uji coba tertutup di Cardiff, Jumat (24/7) waktu setempat. Pertandingan yang tidak masuk dalam kalender resmi internasional itu menjadi ajang pemanasan terakhir bagi kedua tim sebelum berlaga di Glasgow.
Sejak kuarter pertama, Wales langsung tancap gas. Keunggulan postur Georgia Rowe sebagai goal shooter dimanfaatkan maksimal. Ia nyaris tanpa cela dalam penyelesaian akhir, ditopang Phillipa Yarranton di posisi goal attack. Duet ini mengemas 19 gol di kuarter pembuka dan membawa Wales unggul lima gol.
Tonga tidak tinggal diam. Goal shooter Uneeq Palavi menjadi motor serangan balik, memangkas jarak menjadi 32-29 saat turun minum. Namun, Wales bangkit di kuarter ketiga dengan menambah keunggulan menjadi tujuh gol, lalu menutup laga dengan 17 gol di kuarter pamungkas.
Kemenangan ini terasa istimewa karena menjadi laga terakhir pelatih kepala Emily Handyside di hadapan pendukung sendiri. Ia akan mengundurkan diri setelah Commonwealth Games berakhir. Handyside telah membangun tim yang kompetitif, dan hasil ini menjadi sinyal positif bagi skuad asuhannya.
Menariknya, hanya satu peringkat yang memisahkan kedua tim di ranking duniaโWales di posisi ketujuh, Tonga di kedelapan. Ini menunjukkan betapa ketatnya persaingan di level elite. Bagi Tonga, ujian sesungguhnya akan segera tiba: mereka menghadapi Australia, tim nomor satu dunia, di laga perdana pool pada Sabtu (25/7). Sementara Wales akan berjumpa Uganda yang duduk di peringkat keenam dunia.
Di sisi lain, momen haru terjadi saat 12 pemain yang terpilih untuk Glasgow menerima gaun Commonwealth Games dari anggota keluarga mereka. Ini menjadi simbol kebanggaan dan tanggung jawab besar yang diemban para atlet. Skuad Wales diperkuat nama-nama seperti Bethan Dyke (kapten, yang akan tampil di Commonwealth Games keempat kalinya), Lowri Windsor, Alex Johnson, dan Georgia Rowe.
Bagi Indonesia, perkembangan netball di level internasional bisa menjadi referensi. Meski netball belum sepopuler bulu tangkis atau sepak bola di Tanah Air, prestasi tim-tim seperti Wales dan Tonga menunjukkan bahwa konsistensi pembinaan atlet dan strategi permainan mampu mendongkrak peringkat. Ke depan, Indonesia bisa belajar dari model pengembangan usia muda dan kompetisi domestik yang ketat seperti yang diterapkan di Wales.
Dengan format turnamen yang padat, Wales harus segera beradaptasi. Setelah Uganda, mereka akan menghadapi Skotlandia, Trinidad dan Tobago, lalu raksasa seperti Selandia Baru dan Jamaika. Pertanyaan besarnya: mampukah Welsh Feathers mempertahankan performa ini dan melaju jauh di Glasgow? Jawabannya akan terungkap dalam beberapa hari ke depan.



