Kontroversi Promo 'Tank Day' Berujung pada Pembentukan Serikat Pekerja Starbucks Korea
Baca dalam 60 detik
- Karyawan Starbucks Korea resmi mendirikan serikat pekerja pertama sejak kehadiran perusahaan di Negeri Ginseng pada 1999, dipicu oleh kegagalan komunikasi promosi yang menyentuh luka sejarah.
- Promo cangkir reusable 'Tank Day' yang bertepatan dengan peringatan Tragedi Gwangju 1980 memicu boikot konsumen dan penurunan penjualan yang tajam, hingga memaksa CEO mundur.
- Pembentukan serikat ini menjadi preseden baru di industri waralaba global dan dapat memengaruhi dinamika ketenagakerjaan di pasar Asia, termasuk Indonesia yang memiliki jaringan Starbucks terbesar di kawasan.

Karyawan Starbucks Korea secara resmi membentuk serikat pekerja pada pekan lalu, langkah yang belum pernah terjadi sejak jaringan kedai kopi asal Amerika Serikat itu beroperasi di Korea Selatan pada 1999. Keputusan ini diambil di tengah kontroversi promosi cangkir reusable bertajuk "Tank Day" yang dinilai sangat tidak sensitif karena jatuh tepat pada peringatan 46 tahun Tragedi Gwangjuโperistiwa pembantaian demonstran pro-demokrasi oleh militer pada 1980 yang menewaskan 165 warga sipil.
Dalam pernyataan yang diunggah di situs Federasi Serikat Pekerja Kimia, Tekstil, dan Makanan Korea, serikat yang baru terbentuk itu menyatakan bahwa para pekerja memutuskan bersatu untuk "melindungi hak-hak mereka" dan "bekerja dengan ketulusan dan kebanggaan". Mereka menuding manajemen perusahaan selama ini mengabaikan tuntutan perbaikan kondisi kerja, termasuk aksi protes dengan truk yang membawa pesan-pesan demonstrasi. Sebaliknya, perusahaan justru "secara sepihak meluncurkan acara promosi yang semakin memberatkan".
Promosi "Tank Day" yang digelar pada 18 Mei lalu memicu kemarahan publik karena menggunakan kata "tank" yang merujuk pada kendaraan lapis baja yang digunakan militer saat menumpas perlawanan rakyat Gwangju. Akibatnya, CEO Starbucks Korea mengundurkan diri, dan lebih dari 2.000 gerai di seluruh negeri ditutup lebih awal selama sepekan untuk memberikan edukasi kepada staf mengenai makna sejarah peristiwa tersebut. Operator Starbucks Korea mengakui bahwa penjualan merosot tajam pada hari-hari awal skandal itu.
Seorang pejabat Starbucks Korea yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada AFP bahwa perusahaan akan "terus berdialog dengan serikat pekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku". Namun, pernyataan itu tidak menyebutkan jumlah anggota serikat yang telah mendaftar. Langkah ini menjadi ujian bagi model hubungan industrial di perusahaan waralaba global, di mana pembentukan serikat pekerja sering kali dihadapi dengan resistensi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai negara dengan jumlah gerai Starbucks terbanyak di Asia Tenggara, dinamika ketenagakerjaan di Korea Selatan bisa menjadi preseden bagi pekerja di sektor waralaba serupa. Isu sensitivitas sejarah dan budaya juga menjadi pengingat bahwa strategi pemasaran yang mengabaikan konteks lokal dapat berakibat fatalโbaik secara reputasi maupun finansial. Di Indonesia sendiri, kesadaran akan sejarah kelam seperti Tragedi 1965 atau peristiwa 1998 masih sangat kuat, sehingga perusahaan multinasional perlu lebih berhati-hati dalam merancang kampanye promosi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah serikat pekerja Starbucks Korea akan mampu mendorong perbaikan kondisi kerja yang signifikan, atau justru menghadapi tekanan balik dari manajemen. Di tengah tren global meningkatnya aksi kolektif buruh di sektor jasa, langkah 23.000 barista Korea ini bisa menjadi titik balik bagi hubungan industrial di industri kopi dunia.



