Atap SD Negeri Tanggirejo di Grobogan Ambruk Dua Kali dalam Setahun
Baca dalam 60 detik
- Bangunan SD Negeri Tanggirejo di Grobogan mengalami ambruk atap ruang kelas pada Januari dan April 2026.
- Insiden berulang ini memicu kekhawatiran orang tua dan guru terhadap keselamatan siswa selama proses belajar mengajar.
- Pemerintah daerah didesak segera melakukan renovasi menyeluruh untuk mencegah risiko lebih besar di masa depan.

Atap ruang kelas SD Negeri Tanggirejo di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, ambruk untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari setahun. Peristiwa pertama terjadi pada Januari 2026, disusul kerusakan serupa pada April lalu. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius di kalangan orang tua murid dan tenaga pendidik terhadap keselamatan anak-anak saat mengikuti pelajaran.
Menurut laporan yang dihimpun, ambruknya atap tersebut tidak menimbulkan korban jiwa karena peristiwa terjadi di luar jam belajar. Namun, dampak psikologis dan material cukup signifikan. Aktivitas belajar mengajar sempat terganggu, dan sebagian siswa harus dipindahkan ke ruang darurat. Pihak sekolah telah melaporkan kejadian ini kepada Dinas Pendidikan setempat, namun hingga kini belum ada tindakan renovasi permanen.
Kepala Dinas Pendidikan Grobogan, dalam keterangan persnya, menyatakan bahwa pihaknya telah mengalokasikan anggaran perbaikan darurat. Namun, proses lelang proyek masih berlangsung dan diperkirakan baru rampung pada semester kedua tahun ini. Sementara itu, sejumlah orang tua murid mengancam akan menarik anak-anak mereka jika perbaikan tidak segera dilakukan. โKami tidak ingin mengambil risiko. Anak-anak harus belajar di tempat yang aman,โ ujar salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya.
Insiden ini menyoroti kondisi infrastruktur pendidikan di daerah yang masih memprihatinkan. Banyak sekolah dasar di pelosok Indonesia yang mengalami kerusakan serupa akibat minimnya perawatan dan keterbatasan anggaran. Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Semarang, Prof. Budi Santoso, menilai bahwa kejadian berulang seperti ini menunjukkan lemahnya sistem pengawasan dan pemeliharaan bangunan sekolah. โPemerintah daerah perlu melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh gedung sekolah, bukan hanya menunggu laporan kerusakan,โ tegasnya.
Ke depan, perbaikan atap SD Negeri Tanggirejo diharapkan tidak hanya bersifat tambal sulam, tetapi juga memperhatikan standar konstruksi yang tahan lama. Apakah insiden ini akan menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas infrastruktur pendidikan? Ataukah akan kembali terulang di sekolah-sekolah lain yang nasibnya sama? Publik menunggu langkah nyata dari para pemangku kepentingan.



