Waspada Begal di Bandung: Pesan Tiga Ojol hingga Minta Kawal Polisi Jadi Pilihan Warga
Baca dalam 60 detik
- Seorang warga Bandung memesan tiga ojek online sekaligus untuk mengawal perjalanan pulang dini hari, sebagai antisipasi maraknya aksi begal.
- Warga lain memanfaatkan layanan pengawalan polisi melalui call center 110 setelah merasa terancam saat melintas di kawasan yang dianggap rawan.
- Polrestabes Bandung membantah peta kerawanan yang beredar sebagai hoaks, sembari mengklaim telah mengamankan 19 tersangka kejahatan jalanan dalam 20 hari terakhir.

Kekhawatiran terhadap aksi begal di Kota Bandung mendorong warga mengambil langkah ekstrem: seorang perempuan berusia 21 tahun memesan tiga pengemudi ojek online (ojol) sekaligus untuk mengawal perjalanan pulangnya pada Senin dini hari, sementara warga lainnya meminta pengawalan langsung dari kepolisian melalui layanan darurat 110.
Claudia, warga Kecamatan Cicendo, mengaku nekat memesan tiga ojol setelah menonton bareng final Piala Dunia 2026 di kawasan Gudang Selatan. Ia harus pulang lebih awal karena tuntutan pekerjaan keesokan paginya. โSaya nggak bisa stay sampai jam 4. Tadinya pengen bareng sama teman-teman. Jadi ya mau enggak mau pesan ojek buat mengawal,โ ujarnya. Keputusan memesan tiga driver, menurut Claudia, bukan tanpa alasan: ia tidak ingin satu pengemudi menanggung risiko sendirian. โKalau misalkan pesan satu, saya nggak mau menumbalin ojolnya. Makanya pesan tiga supaya saling aman,โ katanya. Menariknya, para pengemudi justru menunjukkan pemahaman terhadap situasi. Salah seorang bahkan langsung menanyakan lokasi rawan dan menghubungi jaringan komunitas sesama driver.
Pengalaman serupa dialami Adinda Religia (25), yang meminta pengawalan polisi saat pulang kerja larut malam dari Jalan Rajawali menuju Margahayu, Kabupaten Bandung. Ia menghubungi call center 110 setelah mengetahui informasi tentang kawasan rawan di sekitar Soekarno Hatta dan Flyover Kopo. โSaya telepon, ngejelasin ini red zone, saya minta anter pulang kerja. Polisinya bilang โbolehโ. Nelpon pukul 21.48, datang pukul 22.34,โ ungkapnya. Adinda dan dua rekannya kemudian diiring-iringan tiga motor oleh petugas kepolisian hingga tiba di rumah.
Kapolsek Andir AKP Triyono Raharja membenarkan adanya permohonan pengawalan dari warga melalui layanan 110. Menurutnya, petugas piket langsung meluncur ke lokasi setelah mendapat informasi. โMungkin yang bersangkutan takut pulang karena sudah malam, apalagi di media sosial ramai soal tindak kejahatan jalanan. Kami senang bisa mengawal sampai rumah,โ ujarnya. Ia mengimbau warga tidak ragu menghubungi 110 jika menghadapi situasi serupa.
Sementara itu, beredar peta kerawanan begal dengan indikator warna merah, kuning, dan hijau di kalangan warga Bandung. Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Dedi Supriyadi menegaskan peta tersebut adalah hoaks dan bukan rilisan resmi kepolisian. โItu tidak benar. Saya katakan itu bukan dari institusi kepolisian,โ tegasnya. Dedi mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terprovokasi. Ia mengakui adanya kejadian begal, namun juga menyebut ada kasus lakalantas dan pembunuhan yang dinarasikan sebagai begal oleh oknum masyarakat. Polrestabes berkomitmen menjaga kondusivitas dengan patroli rutin setiap malam.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka bukan hanya soal efektivitas patroli, tetapi juga sejauh mana kepercayaan publik terhadap data resmi kepolisian dapat mengalahkan ketakutan yang menyebar lebih cepat dari fakta di media sosial.



