Bentrokan Adonara: Dua Korban Luka Masih Dirawat, Polisi Kerahkan 134 Brimob
Baca dalam 60 detik
- Bentrokan antarwarga di Adonara Timur, Flores Timur, menewaskan tiga orang dan melukai tujuh lainnya, dengan dua korban luka masih menjalani perawatan intensif.
- Polisi menerjunkan 134 personel Brimob dari Maumere dan Polda NTT untuk mengamankan lokasi dan mencegah eskalasi konflik.
- Penyebab bentrokan masih diselidiki, sementara situasi keamanan dilaporkan telah kondusif setelah pengamanan diperketat.

Dua dari tujuh korban luka dalam bentrokan berdarah di Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, masih menjalani perawatan di rumah sakit rujukan. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (18/7) pagi itu juga merenggut tiga nyawa dan menghanguskan 20 unit rumah warga.
Wakapolres Flores Timur, Kompol Ketut Mastina, mengungkapkan bahwa dua korban yang masih dirawat adalah Purnama (19) di RSUD Lewoleba, Lembata, dan Anwar Sabon di RSUD Larantuka. Kondisi keduanya dilaporkan stabil. Sementara itu, tiga korban luka lainnya telah diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan di Rumah Sakit Pratama Adonara.
Ketiga korban tewas telah dimakamkan oleh pihak keluarga. Dua jenazah, Nayamudin Iskandar (21) warga Desa Waiburak dan Petrus Kopong Epit warga Desa Narasaosina, dimakamkan pada Sabtu (18/7). Satu jenazah lainnya, Hope (60), dikebumikan pada Minggu (19/7) pagi.
Untuk mengantisipasi meluasnya konflik, aparat keamanan memperkuat pengamanan di lokasi kejadian. Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, menyatakan bahwa sebanyak 34 personel Brimob dari Kompi 4 Batalyon B Maumere telah diturunkan. Selain itu, pada Minggu (19/7), 100 personel Brimob dari Polda NTTโterdiri dari pasukan pelopor dan tim penjinak bom (gegana)โjuga diberangkatkan ke Adonara.
โTotal anggota Brimob yang ditambah untuk penebalan personel lebih dari seratus orang dan semuanya telah tiba di Adonara untuk melakukan pengamanan bersama anggota Polres Flores Timur, Polsek Adonara Timur, dan TNI dari Kodim 1624 dan Koramil setempat,โ ujar Adhitya. Ia menambahkan bahwa hingga Minggu sore, situasi keamanan di lokasi bentrokan telah berangsur kondusif.
Bentrokan yang terjadi sekitar pukul 06.30 WITA itu melibatkan dua kelompok pemuda dari Desa Narasaosina dan Desa Waiburak. Hingga saat ini, polisi masih menyelidiki pemicu konflik yang mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan properti yang cukup besar tersebut.
Konflik horizontal antarwarga di wilayah NTT bukanlah hal baru. Ketegangan yang dipicu oleh sengketa lahan, perbedaan pandangan, atau dendam lama kerap kali memicu kekerasan kolektif. Penambahan personel Brimob diharapkan tidak hanya mengamankan lokasi, tetapi juga menjadi langkah awal untuk mediasi dan rekonsiliasi agar kejadian serupa tidak terulang. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah pendekatan keamanan semata cukup untuk menyelesaikan akar masalah di tingkat komunitas?



