Banjir Terjang Tapanuli Tengah: 145 Jiwa Mengungsi, Tanggul Jebol
Baca dalam 60 detik
- Hujan deras sejak Sabtu menyebabkan sungai meluap dan tanggul jebol di empat kecamatan Tapanuli Tengah.
- Sebanyak 145 warga mengungsi di Gedung Gereja HKBP Sipange, sementara akses jalan lumpuh akibat genangan.
- BPBD bersama TNI dan Basarnas mendirikan dapur umum dan bersiaga menghadapi potensi hujan susulan.

Banjir akibat curah hujan tinggi melumpuhkan sebagian wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, sejak akhir pekan lalu. Ratusan warga terpaksa meninggalkan rumah, dan akses jalan di beberapa titik putus total akibat genangan air setinggi pinggang orang dewasa.
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan dan Logistik BPBD Sumatera Utara, Sri Wahyuni Pancasilawati, mengungkapkan bahwa banjir dipicu hujan deras yang mengguyur sejak Sabtu (18/7/2026). Akibatnya, sejumlah sungai meluap dan tanggul di Kelurahan Bonalumban, Kecamatan Tukka, jebol. Air menggenangi permukiman hingga ketinggian sekitar satu meter.
Empat kecamatan terdampak langsung: Tukka, Badiri, Pinangsori, dan Sarudik. Di Kecamatan Tukka, tiga kelurahan—Sipange, Hutanabolon, dan Bonalumban—terendam. Luapan Sungai Aek Silaga-laga di Sipange memaksa warga mengungsi ke tempat lebih aman. Sementara di Hutanabolon, rumah warga terendam tanpa ada laporan korban jiwa.
Di Kecamatan Badiri, genangan air mengganggu arus lalu lintas di Kelurahan Lopian. Kendaraan roda dua dan roda empat sempat tidak bisa melintas. Sementara di Pinangsori, drainase yang meluap merendam rumah-rumah di Kelurahan Pinangsori dan Albion. Kecamatan Sarudik masih dalam status aman meski debit air Sungai Pondok Batu meningkat.
Tim gabungan dari BPBD, TNI, Basarnas, Babinsa, dan warga setempat langsung turun ke lokasi. Evakuasi dilakukan terhadap warga yang terjebak, sementara pemantauan tanggul diperketat untuk mengantisipasi luapan susulan. Dapur umum didirikan di titik pengungsian untuk memenuhi kebutuhan pangan para korban.
Menurut Sri Wahyuni, petugas masih bersiaga di sejumlah lokasi untuk membantu pembersihan material sisa banjir dan mengantisipasi kemungkinan hujan lanjutan. "Kami terus memantau kondisi cuaca dan kesiapan tanggul," ujarnya, Minggu (19/7).
Peristiwa ini kembali mengingatkan kerentanan wilayah pesisir barat Sumatera terhadap bencana hidrometeorologi. Dengan intensitas hujan yang cenderung tinggi di musim ini, pemerintah daerah diimbau memperkuat sistem peringatan dini dan infrastruktur pengendali banjir. Pertanyaan yang mengemuka: apakah sistem drainase dan tanggul di Tapteng mampu menghadapi curah hujan ekstrem ke depan?



