Film Call of Duty Resmi Dikonfirmasi Berlatar Alam Semesta Modern Warfare
Baca dalam 60 detik
- Sutradara Peter Berg mengonfirmasi film Call of Duty akan mengambil latar alam semesta Modern Warfare, bukan seri orisinal Perang Dunia II.
- Proyek ini melibatkan Taylor Sheridan, kreator Yellowstone, sebagai penulis naskah, yang dinilai cocok membangun karakter dan cerita game.
- Film dijadwalkan rilis pada 30 Juni 2028, bertepatan dengan peringatan 25 tahun waralaba Call of Duty.

Film adaptasi waralaba game Call of Duty akhirnya mendapatkan kepastian arah: latar ceritanya akan berada di alam semesta Modern Warfare. Pengumuman ini disampaikan sutradara sekaligus penulis naskah Peter Berg dalam sebuah panel di Fanatics Fest, New York City, Sabtu (18/7) lalu, yang juga menjadi ajang promosi perilisan Modern Warfare 4.
Berg, yang dikenal lewat film laga seperti Lone Survivor dan Patriots Day, menggarap proyek ini bersama Taylor Sheridan—kreator serial Yellowstone dan penulis naskah Sicario. Keputusan menempatkan film di alam semesta Modern Warfare dinilai strategis, mengingat sub-waralaba tersebut telah menjadi ikon tersendiri sejak dirilisnya Call of Duty 4: Modern Warfare pada 2007, yang sukses mematahkan tradisi seri sebelumnya yang bertema Perang Dunia II.
Hingga saat ini, detail plot masih dirahasiakan. Namun, pilihan latar Modern Warfare membuka peluang besar untuk mengeksplorasi konflik kontemporer, operasi militer rahasia, dan dilema moral yang relevan dengan isu geopolitik masa kini—sebuah pendekatan yang jarang berhasil diadaptasi dari gim ke layar lebar.
Presiden konten gim dan studio Microsoft, Matt Booty, sebelumnya menyebut Taylor Sheridan sebagai “kecocokan yang tepat” untuk film Call of Duty. Dalam wawancara dengan Variety, Booty menjelaskan bahwa pendekatan Sheridan terhadap karakter dan cerita selaras dengan visi tim pengembang gim. “Ini sedikit seperti Fallout—kami punya kanvas luas berisi karakter dan kisah, tapi harus mulai dari mana? Tim punya visi, dan Sheridan cocok dengan apa yang mereka bayangkan,” ujar Booty.
Booty juga mengungkapkan bahwa kerja sama ini lahir dari hubungan organik antara Paramount dan tim senior Call of Duty, bukan dari negosiasi abstrak di tingkat korporat. “Mereka merasa menemukan mitra yang memahami gim, para pemainnya, dan memiliki visi yang sama untuk membawanya ke layar lebar,” tambahnya.
Bagi penggemar di Indonesia, film ini menjadi angin segar di tengah maraknya adaptasi gim yang kerap gagal memuaskan ekspektasi. Call of Duty memiliki basis pemain yang besar di Tanah Air, terutama melalui gim Mobile dan Warzone. Kesuksesan adaptasi ini bisa menjadi tolok ukur baru bagi industri film dan gim di Asia Tenggara, mengingat potensi pasar yang terus tumbuh.
Refleksi Booty bahwa “gim telah menjadi fondasi hiburan” menegaskan pergeseran lanskap industri hiburan global. Dengan jadwal rilis yang masih enam tahun lagi, publik patut menanti apakah Call of Duty mampu mengulangi kesuksesan adaptasi seperti The Last of Us atau Arcane, atau justru terjerumus ke dalam lubang yang sama dengan film-film gim sebelumnya.



