Christopher Nolan Istirahat Tiga Tahun Usai Syuting The Odyssey: 'Saya Capai Batas Stamina'
Baca dalam 60 detik
- Sutradara Christopher Nolan mengonfirmasi jeda minimal tiga tahun sebelum film berikutnya setelah menyelesaikan The Odyssey.
- Proyek ambisius yang dibintangi Matt Damon hingga Zendaya ini menjadi film pertama yang seluruhnya direkam dengan IMAX 70mm.
- Nolan juga mengaku tetap rendah hati meski penggemar menempatkannya di 'pedestal', karena ia menganggap dirinya bagian dari penonton.

Christopher Nolan, sutradara di balik Oppenheimer dan Interstellar, memastikan bahwa film berikutnya tidak akan hadir dalam waktu dekat. Pria 55 tahun itu mengaku 'mencapai batas stamina' saat menggarap The Odyssey, adaptasi epik Homer yang dibintangi Matt Damon, Anne Hathaway, Tom Holland, Robert Pattinson, dan Zendaya. Nolan menyebut jeda produksi minimal tiga tahun, mengikuti pola rilis film-film sebelumnya.
Dalam wawancara dengan program Today, Nolan menjelaskan bahwa The Odyssey adalah proyek yang paling menguras tenaga sepanjang kariernya. "Saya benar-benar mencapai batas stamina saya sendiri dan stamina semua orang, saya rasa," ujarnya. "Ini The Odyssey, tentu saja harus sulit. Kita tidak melakukan pekerjaan dengan benar jika membuat film The Odyssey tanpa kesulitan." Pernyataan ini menegaskan komitmen Nolan pada standar tinggi yang selalu ia terapkan.
Film yang dijadwalkan rilis pada 2026 ini memecahkan rekor sebagai produksi pertama yang seluruhnya direkam menggunakan film IMAX 70 milimeter. Nolan mengungkapkan bahwa ia telah lama bermimpi mewujudkan hal tersebut. "Saya pergi ke IMAX dan berkata, 'Jika kita akan mewujudkan mimpi merekam seluruh film dengan cara ini, inilah saatnya. Ini The Odyssey'," kenangnya.
Di tengah kesibukan produksi, Nolan juga merenungkan popularitas film-film lamanya yang terus bertahan. Kebangkitan Interstellar baru-baru ini, misalnya, membuatnya bersyukur. "Sungguh luar biasa melihat karya Anda bertahan melawan waktu," katanya kepada Hindustan Times. Ia menambahkan bahwa film belum selesai hingga ditonton penonton, yang kemudian 'memberi tahu' apa arti film tersebut. Bagi Nolan, setiap film adalah dialog dengan audiens.
Ketika ditanya bagaimana ia menjaga diri dari kesombongan akibat pujian penggemar, Nolan menjawab dengan rendah hati. "Untuk melakukan pekerjaan saya, saya harus tetap terhubung dengan hal-hal yang membuat saya tertarik pada pembuatan film sejak awal," jelasnya. "Jika film saya berdampak pada orang, dan itu meninggikan saya di mata mereka, meskipun itu luar biasa, itu sangat tidak relevan dengan kerajinan pembuatan film. Saya adalah perwakilan penonton, dan saya harus memiliki kesamaan dengan semua orang yang menonton film."
Bagi penonton Indonesia yang menantikan karya Nolan, jeda tiga tahun mungkin terasa lama. Namun, dengan proyek sebesar The Odyssey, kualitas yang dihasilkan sepadan dengan waktu tunggu. Apakah film ini akan menjadi puncak karier Nolan? Atau justru membuka babak baru dalam sinema epik? Hanya waktu yang bisa menjawab.



