Tim SAR Perluas Area Pencarian 20 Korban Tenggelamnya KM Nurul Salsa di Selayar
Baca dalam 60 detik
- Area pencarian diperluas hingga 1.305 mil laut persegi pada hari kelima operasi SAR.
- Empat kapal dikerahkan di empat sektor, termasuk dua kapal perang TNI AL.
- Lima korban selamat ditemukan setelah mengapung empat hari dan kini dalam perjalanan ke rumah sakit.

Tim SAR gabungan memperluas jangkauan pencarian 20 penumpang KM Nurul Salsa yang tenggelam di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, saat operasi memasuki hari kelima, Minggu (19/7). Perluasan ini dilakukan setelah upaya penyisiran sebelumnya belum membuahkan hasil maksimal.
Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengatakan area pencarian kini mencapai 1.305 nautical mile persegi yang terbagi dalam empat sektor. Masing-masing sektor seluas 337,5 mil laut persegi. Pembagian ini berdasarkan analisis Search and Rescue Marine Prediction (SARMAP) yang memperhitungkan arus dan arah angin.
Empat kapal dikerahkan untuk menyisir setiap sektor: KN SAR Puntadewa 250, KN SAR Pacitan 102, KRI Marlin 877, dan KRI Hiu 634. KRI Marlin 877 sebelumnya sudah bertugas pada hari kedua, sementara KRI Hiu 634 datang dari Palu. Penambahan unsur TNI AL ini diharapkan mempercepat proses pencarian di tengah kondisi laut yang menantang.
Dalam perkembangan positif, KN SAR Kamajaya saat ini sedang dalam perjalanan menuju Pelabuhan Benteng Selayar dengan membawa lima penumpang yang ditemukan selamat. Mereka bertahan hidup selama empat hari dengan mengapung di laut sebelum akhirnya dievakuasi. Kelima korban akan segera mendapatkan perawatan medis di rumah sakit setempat.
Hingga Minggu sore, data Basarnas mencatat dari total 78 orang di atas kapal, 57 orang berhasil selamat, satu orang ditemukan meninggal, dan 20 orang lainnya masih dalam pencarian. Operasi akan terus berlanjut dengan evaluasi harian berdasarkan hasil penyisiran di setiap sektor.
Kecelakaan ini menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan pelayaran di perairan timur Indonesia yang rawan kecelakaan. Pemerintah daerah dan Basarnas diharapkan dapat meningkatkan sistem peringatan dini dan prosedur evakuasi untuk meminimalkan korban jiwa di masa mendatang. Pertanyaan yang mengemuka: apakah regulasi keselamatan kapal penumpang di jalur antar-pulau sudah cukup ketat?



