Korban Kebakaran Bar Bangkok Bertambah Jadi 34 Orang, Perempuan 20 Tahun Meninggal di Rumah Sakit
Baca dalam 60 detik
- Seorang perempuan berusia 20 tahun meninggal akibat luka bakar seminggu setelah kebakaran di bar Bangkok, menjadikan total korban jiwa 34 orang.
- Kebakaran di Rong Beer Na Lad Phrao menyoroti lemahnya penerapan keselamatan kebakaran di tempat hiburan malam Thailand, dengan dugaan pintu darurat terhalang.
- Insiden ini memicu kembali kekhawatiran tentang standar keselamatan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang memiliki risiko serupa di klub malam dan bar.

Korban tewas akibat kebakaran hebat di sebuah bar dan restoran populer di Bangkok bertambah menjadi 34 orang setelah seorang perempuan berusia 20 tahun meninggal dunia di rumah sakit, Minggu (19/7) pagi. Peristiwa yang terjadi pada 12 Juli lalu itu menjadi salah satu kebakaran paling mematikan di Thailand dalam satu dekade terakhir.
Kebakaran melanda Rong Beer Na Lad Phrao, tempat hiburan yang kerap dipadati pengunjung, pada malam hari. Api dengan cepat melahap bangunan, menyebabkan kepanikan di antara para pengunjung. Menurut keterangan kepolisian setempat, sebagian besar korban meninggal akibat menghirup asap, sementara lainnya meninggal di rumah sakit karena luka bakar parah.
Tim investigasi masih mendalami penyebab kebakaran dan faktor yang membuat peristiwa ini begitu mematikan. Sejumlah jenazah ditemukan di dekat toilet, memunculkan dugaan bahwa pintu darurat mungkin terhalang atau tidak berfungsi dengan baik. Seorang ahli keselamatan bangunan yang diwawancarai AFP menilai bahwa Rong Beer Na Lat Phrao tampaknya tidak memiliki sistem keselamatan yang memadai untuk menampung kerumunan besar dan acara musik langsung yang biasa digelar di sana.
Pusat Medis Darurat Erawan, yang dikelola otoritas kota Bangkok, mengonfirmasi bahwa Apinya Sukthongsa, 20, meninggal di rumah sakit pada Minggu dini hari. Sebanyak 70 orang lainnya mengalami luka-luka, dan 13 di antaranya masih menjalani perawatan intensif. Angka ini menunjukkan betapa dahsyatnya kobaran api yang melanda tempat tersebut.
Kebakaran ini kembali menyoroti lemahnya penegakan regulasi keselamatan di Thailand, khususnya di tempat hiburan malam. Pada 2009, kebakaran di klub Santika Bangkok saat perayaan Tahun Baru menewaskan 67 orang dan melukai lebih dari 200 orang. Peristiwa serupa juga terjadi di klub malam di Indonesia, seperti kebakaran di diskotek di Jakarta dan Surabaya yang menelan korban jiwa. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang keseriusan pengawasan dan kepatuhan terhadap standar keselamatan kebakaran di kawasan Asia Tenggara.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya audit keselamatan berkala di tempat-tempat hiburan. Banyak bar dan klub malam di kota-kota besar Indonesia yang beroperasi dengan kapasitas melebihi izin, pintu darurat terkunci, dan minim alat pemadam kebakaran. Jika tidak ada tindakan preventif yang ketat, tragedi serupa bisa terulang kapan saja.
Ke depan, pemerintah Thailand diharapkan segera mengumumkan hasil investigasi dan mengambil langkah konkret untuk memperketat pengawasan. Pertanyaan yang masih mengemuka: akankah tragedi ini mendorong perubahan regulasi yang berarti, atau hanya akan menjadi catatan kelam lain yang terlupakan seiring waktu?



