Disiplin Inggris 'Konyol' di Mata Legenda: 14 Kartu Kuning dalam 8 Laga
Baca dalam 60 detik
- Empat pemain Inggris mendapat kartu kuning di babak kedua saat menang 31-24 atas Argentina, menjadikan total 14 kartu kuning dan satu merah dalam delapan pertandingan tahun ini.
- Mantan pemain scrum-half Matt Dawson menyebut kedisiplinan tim 'verging on comical' dan menjadi masalah kronis yang bisa menghambat progres menuju Piala Dunia.
- Pelatih Steve Borthwick membela tim dengan menekankan semangat juang, sementara Argentina menuduh Inggris kurang respek usai pertandingan.

Empat pemain Inggris harus keluar lapangan karena kartu kuning di babak kedua saat mereka menekuk Argentina 31-24 di Santiago del Estero, Minggu (14/7) waktu setempat. Kemenangan dramatis itu mengantarkan Inggris ke peringkat ketiga klasemen sementara Nations Championship 2026, namun sorotan justru tertuju pada catatan disiplin yang dinilai memprihatinkan.
Dalam laga yang diwarnai tujuh kartu kuning—enam di antaranya di babak kedua—Inggris dua kali bermain dengan 13 pemain, termasuk tiga menit terakhir saat Argentina mencoba membalikkan defisit 14 poin. Wasit Angus Gardner mengeluarkan kartu untuk Jack van Poortvliet (51'), Alex Coles (55'), Henry Pollock (74'), dan Emmanuel Iyogun (77'). Argentina sendiri kehilangan tiga pemain karena pelanggaran serupa.
Catatan ini memperpanjang tren buruk Inggris: 14 kartu kuning dan satu kartu merah dalam delapan pertandingan sepanjang 2026. Hanya sekali mereka lolos tanpa kartu, saat menghajar Fiji 73-8 pekan lalu. Mantan pemain scrum-half Inggris, Matt Dawson, yang menjadi komentator BBC Radio 5 Sports Extra, menyebut situasi ini "verging on comical" atau nyaris konyol. "Jumlah kartu yang diterima tim ini sungguh keterlaluan. Ini masalah besar yang harus segera dibenahi," ujarnya.
Pelatih Steve Borthwick menolak diktekan soal disiplin. "Saya rasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas itu. Tim ini sudah bermain sangat baik, mencetak try indah, dan kalian selalu fokus pada hal negatif," sindir Borthwick kepada wartawan. Ia lebih memilih menyoroti "semangat luar biasa" anak asuhnya, terutama tekel penyelamat Henry Slade di menit akhir yang menggagalkan try Bautista Delguy—keputusan kontroversial yang membuat Argentina kehilangan kesempatan menyamakan skor.
Mantan pemain sayap Inggris Chris Ashton menilai pola ini akan dimanfaatkan lawan. "Jika Anda bermain melawan Inggris, Anda tahu mereka akan sering memberi penalti dan membuat kesalahan bodoh yang berujung kekalahan," katanya. Pemain terbaik laga, Immanuel Feyi-Waboso, yang mencetak try kelima Inggris, juga mengakui disiplin sebagai masalah besar. "Kartu terlalu banyak. Kami tidak boleh mengakhiri pertandingan dengan 13 pemain," ujarnya.
Di luar lapangan, ketegangan berlanjut. Pelatih Argentina Felipe Contepomi menuduh Inggris kurang respek setelah musik dan sorakan dari ruang ganti tim tamu mengganggu konferensi persnya. Contepomi meminta perwakilan Inggris menghentikan suara bising, namun tak digubris, hingga ia meninggalkan ruangan.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, laga ini menjadi tontonan menghibur sekaligus pengingat bahwa disiplin adalah fondasi kemenangan. Timnas Indonesia yang tengah membangun skuad untuk SEA Games bisa belajar dari kasus Inggris: kartu kuning bukan sekadar hukuman, melainkan ancaman strategis yang bisa menghancurkan peluang juara. Pertanyaannya, mampukah Borthwick memperbaiki catatan ini sebelum Piala Dunia 2027?



