Koki dan Produsen Kamboja Bersatu Mengangkat Kuliner Khmer ke Panggung Global
Baca dalam 60 detik
- Pameran Cambodia Food Market Trade Fair 2026 di Phnom Penh menjadi ajang kolaborasi koki, petani, dan pengusaha untuk membangun merek kuliner Kamboja.
- Sekitar 70-80% produk pangan di Kamboja masih impor; target jangka pendek adalah meningkatkan pangsa lokal menjadi 30% demi nilai tambah domestik.
- Keterbatasan infrastruktur pengolahan pangan dan standar internasional menjadi hambatan utama yang coba diatasi melalui edukasi sertifikasi HACCP.

Puluhan koki, petani rempah, dan pengusaha makanan berkumpul di Phnom Penh dalam sebuah pameran yang tak biasa—bukan sekadar jualan, tetapi untuk mentransformasi citra kuliner Kamboja dari hidangan lokal menjadi merek global yang diperhitungkan.
Cambodia Food Market Trade Fair 2026 yang berlangsung selama tiga hari di Diamond Island Exhibition Centre menjadi wadah bagi para pemangku kepentingan untuk merumuskan strategi rebranding negara melalui makanan. Ambisinya jelas: membuka peluang ekspor baru bagi petani, meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan, dan memperkuat identitas nasional di pasar internasional.
CEO Almond Hospitality, Luu Meng, mengungkapkan bahwa saat ini sekitar 70 hingga 80 persen produk pangan yang dijual di Kamboja berasal dari impor. “Kami ingin meningkatkan pangsa produk lokal hingga 30 persen agar lebih banyak nilai ekonomi tetap berada di dalam negeri,” ujarnya kepada Bernama. Target ini menjadi tantangan besar mengingat dominasi merek asing di supermarket Kamboja.
Kamboja sebenarnya memiliki potensi agrikultur yang melimpah berkat iklim tropisnya. Petani menghasilkan lada, gula aren, serai, lengkuas, kunyit, pekak, dan kayu manis berkualitas tinggi. Lada Kampot, misalnya, sudah diakui secara global karena aroma dan rasanya yang khas. Namun, produk-produk ini masih kesulitan menembus pasar internasional, kalah bersaing dengan merek-merek tetangga seperti Thailand dan Vietnam.
Laporan International Development Enterprises (iDE) pada Januari 2022 berjudul “SMEs and Food Processing Markets in Cambodia” mengidentifikasi sejumlah kelemahan struktural. Sektor pengolahan pangan Kamboja masih dalam tahap awal, dengan masalah utama berupa kurangnya tenaga ahli, pengembangan produk yang lemah, sistem penyimpanan dan pengemasan yang tidak memadai, serta dukungan industri yang minim untuk mesin pengolahan, perawatan, dan pengujian pangan. Sebagian besar pelaku usaha adalah perusahaan keluarga dengan keterbatasan modal, sehingga sulit bersaing dengan produsen regional yang lebih besar.
Pameran ini dirancang untuk mengatasi hambatan tersebut dengan memperkenalkan standar internasional, teknologi modern, dan praktik terbaik industri. “Ekspo ini akan mendidik pelaku usaha tentang standar keamanan pangan, praktik higienis, dan sertifikasi HACCP agar produk mereka bisa bersaing di pasar global,” kata Luu Meng, yang juga dikenal sebagai pengusaha dan koki terkenal di Kamboja. Ia menambahkan bahwa industri pengolahan pangan Kamboja memiliki bahan baku yang tepat untuk naik kelas, dari produk pertanian mentah menjadi produk bermerek bernilai tambah tinggi.
Bagi Indonesia, langkah Kamboja ini menjadi pengingat akan pentingnya hilirisasi produk pangan lokal. Negara tetangga dengan potensi rempah melimpah seperti Indonesia juga menghadapi tantangan serupa: dominasi produk impor di pasar domestik dan rendahnya daya saing produk olahan. Kolaborasi antarpemangku kepentingan—dari petani hingga koki—yang digagas Kamboja bisa menjadi model bagi pengembangan industri pangan nasional.
Ke depan, keberhasilan Kamboja dalam membangun merek kuliner global akan sangat bergantung pada konsistensi penerapan standar mutu, dukungan pemerintah, dan kemampuan menjalin kemitraan dengan pembeli internasional. Bisakah lada Kampot dan hidangan Khmer bersanding dengan lada hitam Vietnam atau tom yum Thailand di rak supermarket dunia? Jawabannya mulai dirintis di pameran tahun ini.



