Polwan di China Rawat Orang Tua Rekan yang Tewas Bertugas Selama 20 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Seorang polisi wanita di Guangdong, China, secara konsisten merawat orang tua rekannya yang gugur saat menyelamatkan korban tenggelam pada 2006.
- Meski sempat terlilit utang Rp2,4 miliar untuk biaya pengobatan keluarganya, ia tetap mengirimkan uang dan kebutuhan pokok setiap hari raya tradisional.
- Kisah ini baru terungkap setelah paman korban mengirim surat ke kantor polisi, memicu apresiasi publik atas dedikasi tanpa pamrih selama dua dekade.

Seorang polisi wanita di Dongguan, Provinsi Guangdong, China, telah menjalankan bakti layaknya anak kandung kepada orang tua rekannya yang gugur dalam tugas penyelamatan 20 tahun silam. Zhu Shuo, demikian namanya, memutuskan untuk merawat pasangan lansia itu sejak ia diminta membantu mengurus pemakaman Deng Wenguo pada September 2006.
Deng Wenguo, polisi di stasiun inspeksi perbatasan Dongguan, tewas saat menolong orang tenggelam di sebuah waduk. Pemerintah China kemudian menganugerahinya gelar martir. Saat itulah Zhu Shuo, yang semasa hidup akrab dengan Deng, melihat langsung kondisi orang tuanya yang renta dan berduka. Tanpa pikir panjang, ia bertekad menggantikan peran Deng sebagai anak.
Orang tua Deng tinggal di Yongzhou, Provinsi Hunan, terpisah ribuan kilometer dari Guangdong. Meski kondisi keuangan Zhu sendiri pas-pasanโbahkan sempat menanggung utang satu juta yuan (sekitar Rp2,4 miliar) akibat biaya pengobatan ayah dan kakaknyaโia tak pernah putus mengirimkan uang dan barang kebutuhan pokok setiap perayaan tradisional China. Total bantuan yang diberikan diperkirakan mencapai 150.000 yuan (sekitar Rp360 juta).
Ibu Deng, Xie Qiaoyan, yang kini berusia 70-an tahun, mengaku tak bisa melupakan kebaikan Zhu. "Dia tidak pernah berhenti membantu kami. Bukan setahun, dua tahun, atau beberapa tahun, tapi 20 tahun!" ujarnya haru. Xie juga menambahkan, "Saya sudah banyak lupa, tapi saya tahu dia sangat baik pada kami."
Zhu baru mengunjungi orang tua Deng secara langsung pada Juni lalu, setelah putrinya selesai mengikuti ujian masuk perguruan tinggi nasional. Sebelumnya, ia sengaja tidak berkunjung karena khawatir kehadirannya justru membangkitkan kesedihan. Pertemuan itu berlangsung emosional. "Saya sangat senang bertemu denganmu," kata Xie sambil menangis. "Dulu saya juga ingin mengunjungimu, tapi saya mabuk perjalanan dan takut merepotkan."
Menurut adik Deng, orang tuanya perlahan bangkit dari keterpurukan berkat dukungan Zhu. "Zhu seperti kakak bagiku. Ia sering mengirim pesan menanyakan kondisi kesehatan orang tua," ujar sang adik. Ia mengaku belum pernah bertemu orang setulus Zhu, yang hanya rekan kerja kakaknya tanpa ikatan keluarga.
Pengabdian Zhu selama dua dekade baru diketahui rekan-rekannya di Guangdong pada April lalu, setelah paman Deng mengirimkan surat ke kantor polisi tempat Zhu bertugas. Surat itu ditulis atas nama orang tua Deng yang buta aksara. "Terima kasih atas ketekunan dan bakti selama 20 tahun kepada keluarga yang tidak memiliki hubungan darah. Kami kehilangan putra satu-satunya, tapi mendapatkan seorang putri yang berbakti, Zhu Shuo. Hati kami sangat terhibur," demikian bunyi surat tersebut.
Zhu menanggapi pujian itu dengan rendah hati. "Saya merasa masih belum cukup membantu mereka. Awalnya ini adalah kewajiban untuk merawat keluarga pahlawan, tapi seiring waktu menjadi kebiasaan. Saya hanya membantu sesuai kemampuan, tanpa mengharapkan imbalan," katanya. Selain merawat keluarga Deng, Zhu juga dikenal rutin menyumbang untuk pendidikan anak-anak miskin.
Kisah Zhu Shuo menjadi pengingat bahwa solidaritas dan pengabdian bisa melampaui ikatan darah. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, tindakan sederhana namun konsisten seperti yang dilakukannya justru menjadi teladan yang langka. Pertanyaannya, mampukah kita meniru ketulusan serupa di tengah kesibukan dan keterbatasan masing-masing?



