Resor Wisata Andalan Kim Jong-un Mendapat Pujian dari Beijing: Isyarat Penguatan Hubungan
Baca dalam 60 detik
- Pejabat tinggi China mengunjungi kawasan wisata Wonsan Kalma di Korea Utara, menandai peningkatan interaksi diplomatik kedua negara.
- Proyek ambisius Kim Jong-un ini dipuji sebagai contoh kebijakan berorientasi rakyat, namun masih menghadapi tantangan sanksi internasional.
- Penguatan hubungan China-Korea Utara berpotensi memengaruhi dinamika geopolitik di Asia Timur, termasuk bagi Indonesia.

Seorang pejabat tinggi Partai Komunis dan pemerintahan China melakukan kunjungan ke kawasan wisata pantai Wonsan Kalma di Korea Utara, Jumat pekan lalu. Langkah ini menjadi sinyal terbaru bahwa hubungan bilateral kedua negara tetangga itu kembali menghangat setelah sempat meredup akibat pandemi.
Delegasi yang dipimpin oleh Wang Huning, pejabat nomor empat tertinggi di China, meninjau langsung fasilitas resor yang terletak di Semenanjung Kalma tersebut. Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian lawatan tiga hari Wang ke Pyongyang yang juga mencakup pertemuan dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un. Menurut laporan kantor berita KCNA, Wang didampingi oleh sejumlah pejabat senior Korea Utara dan mendapat penjelasan rinci mengenai fasilitas, operasional, serta prospek pengembangan resor.
Dalam sambutannya, Wang memuji proyek tersebut sebagai contoh nyata dari kebijakan โmengutamakan rakyatโ yang diusung Pyongyang. Pujian dari pejabat tinggi China ini menjadi pengakuan diplomatik yang langka bagi Korea Utara, yang selama ini terisolasi akibat program senjata nuklirnya. Wonsan Kalma merupakan salah satu proyek wisata paling ambisius yang digagas Kim Jong-un. Resor pantai seluas puluhan hektar ini diklaim mampu menampung sekitar 20.000 pengunjung dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas rekreasi modern.
Proyek ini telah digadang-gadang sejak bertahun-tahun lalu sebagai bagian dari upaya Kim Jong-un mengembangkan sektor pariwisata Korea Utara. Wonsan sendiri memiliki nilai simbolis karena merupakan kawasan pesisir yang selama ini identik dengan kalangan elit negara. Kim berambisi menjadikan kota tersebut sebagai destinasi wisata utama yang mampu menarik wisatawan asing, meskipun sanksi internasional masih membatasi akses masuk ke negara itu.
Bagi Indonesia, penguatan hubungan China-Korea Utara patut dicermati. Sebagai negara yang aktif dalam forum regional seperti ASEAN, Indonesia memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas di Semenanjung Korea. Jika China semakin mendukung Pyongyang, hal ini dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan di Asia Timur dan berdampak pada kebijakan luar negeri Indonesia. Selain itu, potensi kerja sama ekonomi di sektor pariwisata Korea Utara mungkin membuka peluang baru bagi investor Indonesia, meskipun risiko sanksi tetap menjadi pertimbangan utama.
Kunjungan Wang Huning ke Wonsan Kalma menegaskan bahwa China tetap menjadi mitra utama Korea Utara di tengah tekanan internasional. Pertanyaannya, akankah pengakuan ini mendorong negara-negara lain untuk mulai melirik potensi wisata Korea Utara, atau justru semakin mengisolasi Pyongyang karena dianggap melanggengkan rezim otoriter? Jawabannya akan sangat bergantung pada langkah diplomasi selanjutnya.



