Gus Ipul Sambangi Sekolah Rakyat DKI: Motivasi Siswa Baru di Malam MPLS
Baca dalam 60 detik
- Mensos Saifullah Yusuf mengunjungi Sekolah Rakyat DKI Jakarta pada malam hari untuk memberikan motivasi kepada 207 siswa baru.
- Ia menekankan pentingnya adaptasi, toleransi, dan anti-perundungan di lingkungan sekolah yang baru.
- Program ini diharapkan mampu memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan inklusif bagi anak-anak kurang mampu.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menyambangi Sekolah Rakyat DKI Jakarta pada Sabtu (18/7) malam, tepat di akhir pekan pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Kunjungan itu bertujuan memberikan suntikan semangat kepada para siswa baru yang masih dalam masa transisi dari rumah ke lingkungan asrama.
Dalam dialog yang berlangsung setelah makan malam, Gus Ipul mengajak siswa untuk tidak berkecil hati jika masih merasa canggung atau rindu orang tua. "Percayalah, satu atau dua bulan ke depan kalian akan terbiasa dengan jadwal padat dan proses belajar di sini. Kakak-kakak angkatan pertama juga pernah mengalami hal yang sama," ujarnya di hadapan puluhan siswa yang duduk rapi.
Gus Ipul juga menyinggung prestasi yang diraih angkatan pertama Sekolah Rakyat. Banyak dari mereka yang awalnya kurang percaya diri, namun setelah dibimbing, berhasil menorehkan pencapaian membanggakan. "Tidak perlu rendah diri. Kalian semua akan dibimbing guru hebat dan didampingi wali asuh," tambahnya.
Suasana semakin hangat saat dua siswa, Calysta (12) dan Jessi, berbagi cerita. Calysta mengaku awalnya menangis dan rindu orang tua, namun kini mulai terbiasa. Sementara Jessi, yang ayahnya bekerja sebagai ojek online, sempat putus asa karena tidak bisa melanjutkan sekolah. "Saya berdoa, apakah masih ada masa depan untuk saya? Lalu jawabannya datang lewat Sekolah Rakyat ini," tuturnya haru.
Jessi juga mengungkapkan kekhawatirannya sebagai minoritas karena berbeda keyakinan dengan teman-temannya. Namun, sambutan hangat dari sesama siswa membuatnya merasa diterima. "Mereka sangat merangkul. Saat teman-teman bangun tahajud, saya ikut bangun dan beribadah sesuai keyakinan saya. Itu malah mengobati rindu keluarga," ceritanya.
Menanggapi hal itu, Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat harus bebas dari perundungan, diskriminasi suku dan agama, serta kekerasan. "Tidak boleh ada intoleransi. Setiap siswa berharga dan tidak dibeda-bedakan," tegasnya.
Kunjungan diakhiri dengan doa bersama dan peninjauan asrama serta gedung permanen. Program Sekolah Rakyat sendiri merupakan inisiatif Kementerian Sosial untuk memberikan akses pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, dengan harapan dapat memutus siklus kemiskinan antargenerasi.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan keberlanjutan program ini, termasuk penyelesaian infrastruktur dan ketersediaan tenaga pendidik yang berkualitas. Akankah model sekolah asrama ini menjadi solusi efektif untuk pemerataan pendidikan di Indonesia?



