Jaket Kulit Jensen Huang Laku Rp15 Miliar, Simbol Era AI yang Diburu Kolektor
Baca dalam 60 detik
- Jaket kulit Tom Ford milik CEO Nvidia terjual 16 kali lipat dari estimasi awal di lelang Sotheby's New York.
- Lelang ini menegaskan status Huang sebagai ikon budaya pop teknologi, setara Steve Jobs atau Mark Zuckerberg.
- Hasil lelang disumbangkan ke Edge Institute, lembaga nirlaba yang fokus pada pendidikan bahasa Inggris dan bisnis.

Jaket kulit hitam yang kerap dikenakan Jensen Huang, bos Nvidia, terjual dengan harga hampir US$1 juta atau sekitar Rp15 miliar dalam sebuah lelang di New York, Jumat pekan lalu. Angka itu melonjak 16 kali lipat dari estimasi awal yang hanya US$60.000, menandakan betapa tingginya nilai simbolis sang CEO di era kecerdasan buatan.
Menurut keterangan Sotheby's, rumah lelang yang menangani penjualan, sebanyak 45 kolektor berebut jaket merek Tom Ford tersebut. Brahm Wachter, kepala koleksi modern Sotheby's, menyebut benda itu sebagai "objek yang sangat melekat pada salah satu figur penentu era AI". Bagi para kolektor, jaket itu bukan sekadar pakaian, melainkan artefak dari perjalanan Nvidia yang kini menjadi perusahaan publik paling bernilai di dunia.
Fenomena ini mengingatkan pada kebiasaan Steve Jobs yang selalu mengenakan turtleneck hitam atau Mark Zuckerberg dengan kaus abu-abu. Huang telah menjadikan jaket kulit sebagai ciri khasnya, tampil hampir di setiap kesempatan publik dengan gaya tersebut, termasuk saat menjadi sampul majalah Time pada 2021. Bagi pengamat mode dan teknologi, jaket itu adalah simbol perpaduan antara gaya eksekutif dan identitas disruptif.
Bagi Indonesia, tren ini menarik dicermati. Di tengah gairah investasi AI yang melanda dunia, termasuk masuknya pusat data Nvidia di Jawa Tengah, simbol-simbol seperti jaket Huang menjadi pengingat bahwa industri teknologi tidak hanya soal kode dan chip, tetapi juga soal pencitraan dan pengaruh budaya. Kolektor Indonesia, yang mulai aktif di lelang barang mewah global, bisa jadi akan melirik artefak serupa di masa depan.
Analis menilai bahwa harga selangit itu mencerminkan euforia pasar terhadap AI dan figur sentral di belakangnya. "Ini bukan sekadar jaket, ini adalah potongan sejarah industri yang sedang berlangsung," ujar Wachter dalam pernyataannya. Lelang ini juga menunjukkan bahwa memorabilia teknologi kini setara dengan karya seni klasik dalam hal nilai investasi.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah barang-barang pribadi tokoh teknologi lain akan mengalami nasib serupa. Dengan valuasi Nvidia yang terus meroket, jaket Huang mungkin baru awal dari tren pengoleksian "relik AI". Bagi para penggemar dan investor, memiliki benda yang pernah dikenakan sang maestro bisa menjadi kebanggaan sekaligus aset bernilai tinggi.



